PravadaNews – Jakarta Fair Kemayoran 2026 menghadirkan ribuan pelaku usaha upaya mendorong perdagangan dan menjaga konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penyelenggaraan ajang tahunan tersebut menjadi salah satu strategi mempertemukan produsen, pelaku usaha, dan konsumen secara langsung guna memperkuat perputaran ekonomi domestik.
Di tengah berbagai tantangan yang membayangi daya beli masyarakat, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang awal tahun ini.
Kondisi tersebut membuat berbagai kegiatan yang berorientasi pada peningkatan transaksi dan belanja masyarakat dinilai semakin penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Direktur Utama PT Jakarta International Expo sekaligus Ketua Umum Panitia Jakarta Fair Kemayoran 2026, Siti Hartati Murdaya, mengatakan tingginya partisipasi pelaku usaha menunjukkan optimisme terhadap potensi pasar domestik yang masih besar.
“Tahun ini terdapat 2.800 perusahaan yang berpartisipasi dengan 1.800 stan pameran. Peserta terdiri dari pelaku UMKM, perusahaan nasional, hingga perusahaan internasional,” ujar Siti Hartati, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Ekspor CPO Diprediksi Keruk Devisa Sebesar Rp31 Triliun
Menurutnya, keterlibatan ribuan perusahaan dari berbagai sektor mencerminkan upaya memperluas akses pasar sekaligus membuka peluang transaksi yang lebih besar bagi pelaku usaha.
Kehadiran UMKM berdampingan dengan perusahaan nasional dan internasional juga diharapkan mampu menciptakan kolaborasi yang mendorong aktivitas perdagangan secara lebih luas.
Lebih lanjut, Siti Hartati menegaskan bahwa Jakarta Fair tidak hanya berfungsi sebagai ajang promosi produk, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bisnis yang dapat memperkuat investasi dan perdagangan.
“Jakarta Fair sebagai wadah pameran multiproduk, hiburan, dan pertemuan bisnis untuk mendorong perdagangan serta investasi dari UMKM hingga industri nasional dan internasional,” kata hartati.
Pandangan tersebut sejalan dengan upaya menjadikan pameran sebagai instrumen penggerak ekonomi yang tidak hanya mengandalkan transaksi jangka pendek.
Melalui kombinasi promosi produk, hiburan, dan jejaring bisnis, penyelenggara berharap tercipta aktivitas ekonomi yang mampu menjaga minat belanja masyarakat sepanjang pameran berlangsung.
Sementara itu, data makroekonomi menunjukkan konsumsi rumah tangga masih memegang peranan dominan dalam struktur perekonomian Indonesia.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto nasional pada kuartal pertama tahun ini.
“Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 54,36 persen dengan pertumbuhan sebesar 5,52 persen,” kata Amalia dalam konferensi pers di Gedung BPS, Selasa lalu.
Amalia menjelaskan bahwa kuatnya kontribusi konsumsi rumah tangga menunjukkan pentingnya menjaga aktivitas belanja masyarakat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Amalia mengatakan konsumsi rumah tangga bersama investasi masih menjadi penopang terbesar perekonomian Indonesia. “Kontribusi total kedua komponen ini yaitu konsumsi rumah tangga dan PMTB memberikan kontribusi sebesar 82,65 persen terhadap total PDB,” ujar Amalia.
Data tersebut menunjukkan bahwa berbagai upaya untuk menjaga konsumsi dan investasi memiliki peran strategis dalam mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks itu, Jakarta Fair Kemayoran 2026 menjadi salah satu taruhan untuk menjaga optimisme pasar, memperluas transaksi perdagangan, serta mendorong perputaran ekonomi domestik ketika konsumsi rumah tangga masih menjadi fondasi utama pertumbuhan nasional















