Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan. (Foto: Dok. Tangkapan Layar INDEF Economics)

Beranda / Ekonomi / Kemarau Panjang Dorong Risiko Inflasi Pangan hingga 2027

Kemarau Panjang Dorong Risiko Inflasi Pangan hingga 2027

PravadaNews – Risiko inflasi pangan kembali mengemuka pada semester kedua tahun ini dan berpotensi membebani perekonomian hingga 2027. Ancaman kemarau panjang dinilai berpotensi mengganggu produksi serta mendorong kenaikan harga bahan pangan pokok.

Tekanan tersebut semakin besar karena sejumlah komoditas pangan nasional masih bergantung pada impor, di tengah tren peningkatan harga pangan global.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan menilai, dinamika harga pangan global menjadi salah satu risiko utama yang perlu diperhitungkan dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

Menurut Abdul, kenaikan harga pangan berdampak langsung terhadap pergerakan inflasi volatile food hingga penurunan daya beli masyarakat. Ketergantungan terhadap pasokan impor juga memperbesar kerentanan Indonesia terhadap gejolak harga internasional sekaligus menekan nilai tukar rupiah.

“Risiko inflasi pangan ini tidak berhenti di semester I, justru risikonya jauh lebih besar di semester II karena dampak kemarau panjang baru akan terasa secara drastis,” kata Abdul Manap dalam diskusi INDEF, Senin (24/8/2026).

Dalam penjelasannya, tren kenaikan harga pangan global salah satunya terlihat dari harga beras Thailand sebagai benchmark yang meningkat 18,59% secara tahunan (year-on-year). Selain beras, komoditas penting seperti jagung dan kedelai juga masih mengandalkan impor.

“Kebutuhan pangan yang masih sangat bergantung pada impor ini mengancam nilai tukar rupiah dan memicu inflasi volatile food,” ujar Abdul Manap.

Catatan INDEF menunjukkan inflasi volatile food sempat menembus angka di atas 5%, melampaui batas atas target IHK pemerintah. Tekanan ini berisiko berlanjut apabila gangguan produksi akibat faktor cuaca ekstrem tidak segera diantisipasi.

Sementara itu, pemerintah menyatakan terus menyiapkan langkah mitigasi melalui penguatan cadangan pangan dan kesiapan rantai distribusi guna mengantisipasi gangguan pasokan.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy menegaskan, keandalan stok pangan merupakan kunci utama menjaga stabilitas harga nasional.

“Kita harus tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem dengan cadangan pangan yang kokoh, produksi yang terus meningkat, distribusi yang semakin kuat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Sarwo Edhy dalam keterangan resminya, Kamis (9/7).

Sarwo menjelaskan, Bapanas terus memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), khususnya untuk komoditas beras. Penguatan pasokan dari hulu ke hilir ini diharapkan dapat menekan lonjakan harga pangan serta memitigasi risiko inflasi hingga 2027.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *