PravadaNews – Penyerapan gabah atau beras oleh Badan Urusan Logistik atau Bulog diminta untuk dihentikan segera. Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI), Khudori mengatakan, langkah tersebut perlu dilakukan agar kondisi industri beras tidak semakin kusut.
Khudori menilai, penghentian penyerapan itu penting dilakukan agar pelaku usaha dan penggilingan dan produsen dapat menjalankan usahanya dengan normal kembali.
Dengan begitu, pasar modern kembali mendapatkan pasokan beras premiun yang mencukupi. Masyarakat pun tidak akan kesulitan untuk mendapatkannya. “Pendek kata ada banyak manfaat ketika Bulog menghentikan penyerapan,” kata Khudori dalam keterangannya kepada PravadaNews, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Harga Ayam Awal Agustus dalam Pantauan Pemerintah
Khudori mengungkapkan alasan Bulog perlu menghentikan penyerapan gabah atau beras. Khudori merinci penyerapan beras Bulog per 9 Agustus 2026 baru mencapai 3,621 juta ton dari target 4 juta ton.
Menurutnya, pengadaan 4 juta ton beras bukan harga mati dan target tersebut tidak perlu dikerjar mati-matian tanpa melihat kondisi pasar. “Menjadikan target sebagai sesuatu yang harus dicapai tanpa menimbang pasar adalah salah besar,” kata Khudori.
Khudori menjelaskan, Bulog sebagai kepanjangan tangan pemerintah bukan hanya menjaga harga gabah di petani di hulu tidak jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500/kg.
Di samping itu, Bulog juga menjaga dan memastikan harga besar di konsumen di hilir tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) di tiga zona yang ditetapkan.
Lebih lanjut Khudori mengatakan, Bulog harus bertindak sebagai katalis yang menjamin para pelaku usaha yang bergerak di tengah tetap bisa bekerja dan berfungsi dengan baik.
Khudori menambahkan, sebesar-besarnya besar yang ditataniagakan Bulog, porsinya hanya sekitar 15%. “Sisanya di-handle swasta,” ujar Khudori.
Sementara itu, Direktur Keuangan Perum Bulog, Hendra Susanto mengatakan, penyerapan besar dari masyarakat akan terus ditingkatkan untuk memenuhi target 4 juta ton sepanjang tahun. Hendra menyampaikan, stok beras saat ini sekitar 5,4 juta ton.
“(Penyerapan) sudah mencapai sekitar 80% atau sekitar 3,4 juta ton. Tinggal sedikit lagi,” kata Hendra di Cimahi, Jawa Barat, Kamis (13/8).
Hendra mengatakan, penyerapan besar dari masyarakat akam terus digenjot guna menjaga ketersediaan cadangan beras pemerintah serta produksi petani dapat terserap.















