PravadaNews – Kenaikan harga bawang yang terjadi belakangan ini menjadi perhatian banyak pihak, terutama para pelaku usaha kuliner dan ibu rumah tangga yang menjadikan komoditas tersebut sebagai salah satu bahan utama dalam berbagai masakan.
Menyikapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan mulai mencari alternatif yang dapat digunakan tanpa mengurangi kualitas maupun cita rasa makanan.
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Nannie Hadi Tjahjanto menyampaikan, tingginya harga bawang memang menjadi tantangan bagi banyak orang.
Namun, kondisi tersebut dinilai masih dapat diantisipasi melalui berbagai inovasi dalam pengolahan makanan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memodifikasi penggunaan bumbu dengan memanfaatkan bahan-bahan lain yang memiliki fungsi serupa sebagai penguat rasa.
“Untuk harga bawang memang mahal. Untuk antisipasinya sekarang mungkin banyak yang bisa kita modifikasi untuk menggantikan bawang,” ujar Nannie kepada PravadaNews, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, kreativitas masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner, menjadi kunci dalam menghadapi situasi tersebut. Dengan pengalaman yang dimiliki dalam mengolah makanan, mereka diyakini mampu menemukan cara yang tepat agar kenaikan harga bawang tidak berdampak besar terhadap kualitas masakan maupun biaya produksi.
Nannie meyakini masyarakat memiliki kemampuan untuk menyesuaikan penggunaan bahan baku sehingga lonjakan harga tidak sampai merugikan usaha ataupun mengubah cita rasa makanan secara signifikan. Berbagai rempah dan bumbu lokal dinilai dapat menjadi pilihan untuk melengkapi rasa masakan sesuai kebutuhan.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk lebih bijaksana dalam mengatur pengeluaran rumah tangga, termasuk dalam membeli bahan pangan. Perencanaan belanja yang lebih cermat serta pemanfaatan bahan-bahan alternatif diharapkan mampu membantu mengurangi beban akibat kenaikan harga komoditas.
“Kita coba dengan cara-cara yang lebih bijaksana, lebih cerdas untuk menyikapi semua,” katanya.
Untuk itu, masyarakat diharapkan dapat tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus mengorbankan kualitas makanan maupun keberlangsungan usaha.
Kreativitas dalam mengolah bahan pangan menjadi salah satu solusi yang dinilai efektif untuk menghadapi fluktuasi harga kebutuhan pokok, termasuk bawang, hingga kondisi pasar kembali stabil.
Harga bawang putih di sejumlah wilayah Papua Tengah masih berada pada level yang relatif tinggi. Berdasarkan pantauan harga pangan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, Selasa (21/7) pukul 13.25 WIB, harga komoditas tersebut di beberapa daerah masih jauh di atas kisaran harga di sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Di Pasar Baru Wamena, Kabupaten Jayawijaya, harga bawang putih tercatat mencapai Rp90.000 per kilogram. Sementara itu, di Kabupaten Nabire, harga bawang putih berada di angka Rp65.000 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan masih adanya disparitas harga antarwilayah di Papua Tengah. Wamena yang berada di kawasan pegunungan memiliki tantangan distribusi yang lebih besar dibandingkan daerah pesisir seperti Nabire, sehingga biaya logistik turut memengaruhi harga komoditas pangan di tingkat konsumen.
Tingginya harga bawang putih juga menjadi perhatian pemerintah. Berbagai langkah terus diupayakan untuk menjaga kelancaran pasokan dan stabilitas harga, termasuk memastikan realisasi impor berjalan sesuai kebutuhan serta memperkuat distribusi pangan hingga ke daerah-daerah yang masih menghadapi tantangan logistik. Diharapkan, upaya tersebut dapat membantu menekan harga bawang putih di pasaran sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.















