PravadaNews – Peternak ayam petelur kini menghadapi tekanan berat akibat harga jual telur yang terus merosot. Di saat yang sama, harga pakan justru mengalami kenaikan sehingga keuntungan yang diperoleh peternak semakin tipis.
Kondisi tersebut membuat peternak harus menghadapi situasi serba sulit dalam mempertahankan usaha. Penurunan harga telur dan kenaikan biaya produksi terjadi secara bersamaan sehingga margin keuntungan semakin tergerus.
Kiki, salah seorang peternak telur, mengatakan penurunan harga mulai dirasakan sejak akhir bulan lalu. Saat ini, telur yang dikirim ke warung maupun agen hanya dihargai sekitar Rp23.000 per kilogram atau sekitar Rp345.000 per peti.
“Harga sudah turun jauh. Kalau sekarang naik dari Rp23.000 paling hanya sekitar Rp800, habis itu turun lagi. Keuntungan masih ada, tapi sangat tipis,” ujar Kiki saat dikonfirmasi.
Bagi peternak, harga tersebut belum memberikan ruang yang cukup untuk memperoleh keuntungan yang layak. Kondisi itu semakin berat karena biaya untuk memenuhi kebutuhan produksi justru meningkat.
Harga pakan ayam petelur kini disebut telah mencapai Rp385.000. Kenaikan tersebut membuat peternak harus mengeluarkan biaya lebih besar ketika harga telur di tingkat peternak justru bergerak turun.
Situasi tersebut menciptakan apa yang dikenal sebagai scissors effect atau efek penjepit. Biaya produksi yang meningkat bertemu dengan harga jual telur yang menurun sehingga ruang keuntungan peternak semakin sempit.
Kiki bahkan menilai kondisi harga telur tahun ini lebih buruk dibandingkan ketika pandemi COVID-19. Menurut dia, pada masa pandemi harga telur masih sempat bergerak dari sekitar Rp19.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
“Malah tahun ini paling jeblok harganya. Pas COVID-19 saja harganya masih bisa naik dari Rp19.000 ke Rp25.000,” ungkapnya.
Selain harga pakan, peternak juga menghadapi pasar yang dinilai tidak stabil. Perubahan kondisi pasar tersebut turut dirasakan dalam rantai distribusi telur dari peternak menuju agen dan pedagang.
Kiki menyoroti perubahan operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya. Penutupan sebagian besar dapur MBG yang kini disebut hanya menyisakan dua unit dinilai turut memengaruhi ketidakstabilan pasokan dan harga di tingkat agen maupun peternak.
Menurut Kiki, kondisi tersebut juga dirasakan oleh para pedagang yang mengeluhkan harga pasar yang tidak menentu. Ketidakpastian itu membuat peternak kesulitan memperkirakan pendapatan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
“Banyak pedangan pada komplain semua, harga kaya gini gara-gara imbas program MBG, ngancurin harga pasar,” kata Kiki.
Peternak berharap harga telur dapat kembali berada pada level yang lebih stabil. Mereka berharap harga dapat kembali mencapai kisaran Rp27.000 hingga Rp28.000 per kilogram agar usaha peternakan ayam petelur rakyat tetap dapat bertahan.















