Ilustrasi Minyakita yang beredar di pasar (Foto: Dok. Kementerian Perdagangan)

Beranda / Ekonomi / MinyaKita Lebihi Harga Acuan

MinyaKita Lebihi Harga Acuan

PravadaNews – Harga MinyaKita kini semakin menjauh dari ketentuan pemerintah ketika harga bahan bakunya tetap tinggi. Sehingga konsumen pun harus membayar minyak goreng rakyat lebih mahal.

Pantauan PravadaNews di Pasar Kemiri, Depok, menemukan MinyaKita dijual Rp19.500 per liter. Harga itu Rp3.800 lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET).

Sebagai informasi, pemerintah menetapkan HET MinyaKita sebesar Rp15.700 per liter sejak 14 Agustus 2024. Ketentuan ini tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1028 Tahun 2024.

Pada saat yang sama, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), Kamis (16/7/2026), mencapai Rp15.650 per kilogram.

Sementara itu, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori menjelaskan, harga CPO masih sekitar Rp12.600 per kilogram ketika HET MinyaKita ditetapkan.

Artinya, harga bahan baku telah naik sekitar Rp3.050 per kilogram. Menurut Khudori, perubahan tersebut membuat perhitungan biaya produksi MinyaKita ikut bergeser. 

Selain membeli CPO, produsen harus menanggung biaya pengolahan dan kemasan sebelum minyak goreng dipasarkan. Karena itu, kenaikan harga bahan baku turut menambah tekanan terhadap biaya produksi.

“Tambahan permintaan CPO untuk biodiesel akan mengurangi minyak sawit yang bisa dialokasikan untuk pangan, terutama minyak goreng, dan untuk ekspor,” ucap Khudori kepada PravadaNews, dikutip Jumat (17/7).

Adapun permintaan CPO domestik bertambah setelah pemerintah meningkatkan campuran minyak sawit dalam bahan bakar menjadi biodiesel 50% atau B50. Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada 1 Juli 2026.

Sebelumnya, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam kajiannya memperkirakan B50 membutuhkan sekitar 17,5 juta-18 juta ton CPO. Bahan baku ini juga digunakan untuk memproduksi minyak goreng.

Sebagai informasi, minyak goreng dan biodisel menggunakan bahan baku yang sama sehingga peningkatan kebutuhan energi memengaruhi ruang pasokan untuk pangan.

Kajian lembaga itu turut menyebut pertumbuhan produksi CPO cenderung stagnan dibandingkan kenaikan kebutuhan domestik. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap MinyaKita yang harganya telah melampaui HET.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *