PravadaNews – Presiden Iran Masoud Pezeshkian memuji Nota Kesepahaman Islamabad yang ditandatangani dengan Amerika Serikat sebagai “dokumen bersejarah” dan demonstrasi kekuatan Iran di panggung dunia.
“Ini adalah dokumen bersejarah dan pesan dari Iran yang kuat: Perdamaian akan terwujud di bawah naungan rasa saling menghormati,” tulis Pezeshkian di media sosial pada hari Kamis, sambil membagikan gambar perjanjian yang telah ditandatangani, melansir dari Press TV, Kamis (18/6/2026).
Presiden menegaskan kembali komitmen Iran terhadap perdamaian global sambil menjaga martabat, kemerdekaan, dan kepentingan nasionalnya.
“Republik Islam Iran selalu berkomitmen dan teguh terhadap perdamaian global sambil menjaga martabat dan kemerdekaannya, serta terhadap kemajuan dan kerja sama regional,” katanya.
Dokumen 14 poin tersebut ditandatangani secara daring pada dini hari Kamis oleh Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump, yang sedang menghadiri KTT G7 di Prancis.
Format penandatanganan diubah dari upacara tatap muka di Swiss menjadi prosedur virtual setelah konsultasi selama 24 jam terakhir, demikian diumumkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, di televisi nasional.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator dalam upaya diplomatik selama berbulan-bulan, juga menandatangani memorandum tersebut. Sharif mengumumkan bahwa perjanjian tersebut mulai berlaku dengan segera.
Memorandum tersebut, yang membuka jalan bagi negosiasi selama 60 hari menuju kesepakatan akhir, mencakup komitmen AS untuk bekerja sama dengan mitra regional dalam rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi senilai $300 miliar untuk Iran.
Amerika Serikat juga berjanji untuk mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran dan melepaskan aset yang dibekukan, menurut teks tersebut.















