PravadaNews – Risiko gangguan panen akibat El Nino yang masih sangat kuat mendorong imbauan kepada petani untuk menyimpan gabah sebagai persiapan menghadapi kondisi pangan pada 2027.
Di Jawa Barat, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kekeringan telah berdampak pada 16.337,13 hektare lahan pertanian hingga Rabu (30/9/2026), termasuk 3.026,6 hektare yang mengalami gagal panen atau puso.
Menanggapi hal ini, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa mengingatkan petani agar mewaspadai perkembangan iklim yang berpotensi mengganggu produksi pangan pada tahun mendatang.
“Untuk itu, kami sendiri ini sudah menyampaikan ke sedulur tani kami, simpan gabah. Jangan-jangan terjadi sesuatu di tahun 2027,” ujar Dwi dalam penjelasannya, Selasa (20/10).
Menurutnya, kewaspadaan tersebut berkaitan dengan perkembangan El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026.
Dwi menyoroti anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 yang disebut mencapai sekitar 3,3 derajat Celsius, setelah berada pada kisaran 3,0 derajat Celsius sekitar dua pekan sebelumnya.
Selain itu, Dwi mencermati penguatan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia yang terjadi bersamaan dengan El Nino di Samudra Pasifik.
Kedua fenomena ini, jelasnya memengaruhi pergerakan uap air di sekitar Indonesia, sehingga perkembangan iklim perlu terus diwaspadai.
Sebagai gambaran, Dwi mengingatkan kejadian El Nino sangat kuat pada 1997–1998, ketika Indonesia harus mengimpor beras sebanyak 6,4 juta ton pada 1998.
Berdasarkan perkembangan iklim yang diamati, Dwi memperkirakan El Nino dengan intensitas sangat kuat masih akan berlangsung hingga awal 2027 sebelum berangsur melemah.
“El Nino sangat kuat sampai Februari 2027, terus kemudian beralih ke El Niño kuat sampai sekitar April 2027,” ungkap Pengamat tersebut.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 mencapai +3,33 derajat Celsius pada awal Oktober 2026, dengan indeks El Nino–Southern Oscillation (ENSO) tiga bulanan sebesar +3,08.
BMKG juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 mundur pada wilayah yang mencakup 61,08% daratan Indonesia, seiring pengaruh El Ni!+ dan IOD yang mengurangi potensi hujan.
Di tengah kondisi ini, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi padi September–November 2026 mencapai 12,24 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 11,96% dari 13,90 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya, sementara Badan Pangan Nasional (Bapanas) menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah minimal Rp6.500 per kilogram dan mencatat penyerapan Bulog sebesar 4,09 juta ton setara beras hingga Senin (28/9).














