PravadaNews – Pada kuartal I 2026, industri tekstil dan pakaian tumbuh 4,86%, sedangkan ekspornya meningkat sekitar 1,3%. Namun, prospek tersebut belum otomatis mendorong seluruh pabrik memperbarui mesin ketika biaya pembiayaan masih tinggi.
Peluang pertumbuhan mulai terlihat setelah permintaan global terhadap benang, kain tenun, serta kain rajut menunjukkan pemulihan sepanjang 2025.
Di tengah perubahan pasar itu, Direktur Pelaksana Bisnis Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Anton Herdianto menilai, harga murah tidak lagi menjadi penentu utama ekspor.
“Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan,” kata Anton dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (29/7/2026).
Tuntutan ini membuat pabrik harus memperbaiki proses produksi agar mampu menjaga mutu, ketertelusuran bahan, dan ketepatan pengiriman.
Kebutuhan tersebut semakin penting karena kain jadi atau finished fabric menyumbang sekitar 74% dari ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
Dengan struktur itu, produksi garmen tetap bergantung pada kelancaran pasokan benang dan kain dari pabrik domestik.
Indonesia Eximbank Institute memperkirakan ekspor tekstil tumbuh 2–3,2% pada 2026, kemudian meningkat menjadi 3,5–4% pada 2027.
Meski demikian, proyeksi ini belum menunjukkan apakah tambahan pesanan akan tersebar merata dari industri hulu hingga produsen pakaian jadi.
Perusahaan juga membutuhkan mesin yang lebih produktif untuk memenuhi standar pasar global. LPEI menyediakan pembiayaan dan perlindungan transaksi guna membantu kebutuhan modal eksportir.
Namun, kebutuhan modernisasi muncul ketika biaya pinjaman berpotensi menahan pembelian mesin dan perluasan kapasitas produksi.
Direktur Riset Makroekonomi Kebijakan Fiskal dan Moneter Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Akhmad Akbar Susamto mengatakan, kenaikan bunga dapat membuat perusahaan menunda investasi.
“Pengusaha yang tadinya ingin berinvestasi, membeli mesin, peralatan, barang modal, atau melakukan investasi lainnya mungkin berencana membiayainya menggunakan dana perbankan. Namun, ketika tingkat suku bunga naik, rencana itu bisa dibatalkan karena biayanya terasa terlalu mahal,” jelas Akbar dalam CORE Midyear Economic Review 2026 yang dipantau melalui YouTube CORE Indonesia, Minggu (2/8).
Tekanan ini muncul ketika Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% pada Juli 2026 setelah sebelumnya menaikkannya dari 4,75%.
Dampak kenaikan bunga, lanjut Akbar, memang tidak langsung diteruskan oleh perbankan. Akan tetapi, pelemahan industri telah terlihat sebelum biaya kredit meningkat.
“Intinya, kapasitas produksi turun, penyerapan tenaga kerja juga turun, sementara pada saat yang sama harga jual naik. Sebagian kondisi itu bahkan terjadi sebelum kenaikan tingkat suku bunga,” tegas Ekonom tersebut.
Dengan kondisi itu, prospek ekspor belum cukup memperkuat seluruh pabrik tekstil. Dampaknya baru meluas apabila pesanan masuk ke rantai pasok domestik dan perusahaan memperoleh pembiayaan terjangkau untuk memperbarui mesin.















