Ilustrasi Bursa efek Indonesia (Foto: PravadaNews/GeminiAi)

Beranda / Ekonomi / Alasan IHSG Sulit Bangkit

Alasan IHSG Sulit Bangkit

PravadaNews – Pasar modal Indonesia dinilai masih sulit keluar dari tekanan karena dibayangi akumulasi sentimen negatif, mulai dari pelemahan nilai tukar Rupiah, kontraksi aktivitas manufaktur, potensi kenaikan suku bunga, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi.

Kondisi tersebut membuat minat investor terhadap aset berisiko masih tertahan. Direktur Utama PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Changkun Shin, mengatakan sulit bagi pasar untuk kembali bergairah selama berita yang mendominasi masih bernada negatif.

Menurut Shin, kombinasi berbagai faktor tersebut terus membebani psikologi investor. “Intinya, sulit bagi market untuk bergairah ketika headline yang muncul masih didominasi oleh pelemahan Rupiah, Rapor Kesehatan Pabrik (PMI) manufaktur kontraksi, potensi kenaikan suku bunga, dan berita PHK di sektor teknologi,” kata Shin kepada PravadaNews, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga: Likuiditas Uji Laju Kredit Perbankan

Shin menilai kabar pemutusan hubungan kerja dalam skala besar di TikTok Shop-Tokopedia semakin memperkuat persepsi bahwa industri teknologi Indonesia belum memasuki fase pertumbuhan. Sebaliknya, sektor tersebut masih fokus melakukan efisiensi untuk menjaga profitabilitas.

“Kabar layoff besar-besaran di TikTok Shop-Tokopedia memperkuat persepsi bahwa sektor teknologi Indonesia masih berada dalam fase efisiensi, bukan ekspansi,” ujar Shin.

Shin mengatakan kondisi tersebut sangat berbeda dengan pasar saham global yang saat ini justru didorong oleh reli saham-saham teknologi. Menurutnya, sektor artificial intelligence (AI), semikonduktor, dan pusat data menjadi motor utama penguatan berbagai indeks saham dunia.

Sementara di Indonesia, sektor teknologi belum mampu menjadi penggerak utama kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Investor masih mencermati tantangan monetisasi bisnis digital yang belum stabil, tekanan regulasi, serta persaingan industri yang semakin ketat.

Selain itu, restrukturisasi tenaga kerja yang masih berlangsung di sejumlah perusahaan teknologi juga menjadi faktor yang menghambat perubahan sentimen. Hal tersebut membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati terhadap prospek sektor digital domestik.

Shin menambahkan sentimen negatif juga datang dari pelemahan Rupiah yang meningkatkan ekspektasi kenaikan BI-Rate. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan valuasi saham sekaligus meningkatkan biaya pendanaan bagi dunia usaha.

Di sisi lain, kontraksi PMI manufaktur memunculkan kekhawatiran terhadap perlambatan aktivitas ekonomi. Apabila kondisi tersebut berlanjut, permintaan domestik maupun ekspor dikhawatirkan ikut melemah sehingga memengaruhi kinerja emiten.

Menurut Shin, eksposur PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PT Astra International (ASII) terhadap GOTO memang bukan faktor utama yang menentukan fundamental kedua emiten tersebut. Namun, hubungan investasi tersebut tetap menjadi beban sentimen di mata pelaku pasar.

“Exposure TLKM dan ASII ke GOTO mungkin tidak menjadi faktor utama terhadap kinerja fundamental keduanya, tetapi tetap menjadi beban sentimen karena investor mempertanyakan apakah investasi digital domestik benar-benar dapat menciptakan nilai jangka panjang,” tutur Shin.

Shin menilai pemulihan IHSG membutuhkan perubahan narasi dari dominasi sentimen negatif menuju munculnya katalis positif yang mampu mengembalikan kepercayaan investor. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, pergerakan pasar diperkirakan masih cenderung volatil dan terbatas.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *