PravadaNews – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta publik tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap tekanan yang tengah dialami soal nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Dalam keteranganya sosok pria yang akrab disapa Misbakhun itu menilai fluktuasi nilai mata uang merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang perlu disikapi dengan tenang.
Di sisi lain, Misbakhun mengaku sangat memahami pesan utama pemerintah menjaga ketenangan publik di tengah gejolak pasar keuangan. Pasalnya, jika lemahnya nilai tukar rupiah turut ditanggapi dengan kepanikan maka berimbas menimbulkan kekacauan.
“Yang ingin disampaikan Presiden adalah masyarakat tidak perlu panik berlebihan setiap kali melihat nilai tukar bergerak. Bukan berarti pelemahan rupiah dianggap tidak penting atau disepelekan,” kata Misbakhun dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (20/5/2026).
Misbakhun menegaskan, yang ingin dibangun pemerintah adalah stabilitas psikologis publik agar tidak terjadi kepanikan yang justru dapat memperburuk kondisi ekonomi.
Misbakhun juga mengibaratkan pergerakan nilai tukar rupiah ke dolar AS seperti cuaca buruk di tengah pelayaran. Dalam kondisi tersebut, kata Misbakhun, yang dibutuhkan adalah navigasi yang tepat, bukan kepanikan di atas kapal.
“Kalau ada gelombang besar, tentu nahkoda harus bekerja serius menjaga arah kapal. Tetapi penumpang juga tidak perlu panik seolah kapal akan tenggelam,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan data Refinitiv, rupiah terpantau masih berada di bawah tekanan pada perdagangan. Pada pukul 09.13 WIB, rupiah melemah 0,34 persen ke level Rp17.700 per dolar AS.
Sebelumnya, rupiah juga dibuka melemah di awal perdagangan, yakni di level Rp17.650 per dolar AS atau turun 0,06 persen.
Kondisi ini terjadi di tengah indeks dolar AS (DXY) yang saat ini justru melemah 0,11 persen ke posisi 99,094, menandakan tekanan pada rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan pergerakan dolar global.
Meski demikian, DPR memahami terkait dampak langsung perihal pelemahan rupiah terhadap dolar AS terutama pada harga sektor energi, bahan pangan impor, dan kebutuhan industri.
Misbakhun menyebut akan terus memantau perkembangan pasar dan menjalin komunikasi intensif dengan pihak pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas sektor keuangan.
“Di belakang layar, pembahasan mengenai stabilitas rupiah dan langkah-langkah penguatannya terus dilakukan secara intens. Pemerintah dan DPR tidak diam,” kata Misbakhun.
Misbakhun juga menyampaikan optimisme koordinasi kebijakan yang dilakukan pemerintah dan otoritas ekonomi dapat mulai memberikan sentimen positif terhadap pasar dalam waktu dekat.
Misbakhun menambahkan, kunci utama saat ini guna menjaga stabilisasi ekonomi yaitu langkah dari konsistensi kebijakan dan menjaga kepercayaan publik.
“Saya yakin pasar akan mulai melihat arah perbaikannya. Yang penting sekarang konsistensi kebijakan dijaga dan kepercayaan publik tidak boleh goyah,” pungkas Misbakhun.
Sementara itu, anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino mendesak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berkata jujur untuk mengungkap tabir penyebab atas lemahnya nilai tukar rupiah pada Dolar AS.
Desakan itu disampaikan langsung kepada Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Senin, (18/5).
Dalam kegiatan rapat tersebut, politikus PDIP itu telah nampak beberapa kali melontarkan kritik terhadap kebijakan bank sentral.
Harris menilai pelemahan rupiah saat ini tidak semata-mata dipicu dari tekanan global sebagaimana kerap disampaikan BI.
Menurut Haris, persoalan ekonomi domestik juga memberi kontribusi besar terhadap depresiasi mata uang nasional.
“Semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan. Tetapi kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” kata Harris dalam rapat itu.
Harris mengakui bahwa tekanan global memang menjadi salah satu faktor yang cukup memengaruhi nilai tukar kurs rupiah.
Namun, Harris menilai terdapat persoalan serius di dalam negeri yang belum diungkap secara terbuka.
Harris menyoroti sejumlah poin persoalan domestik, mulai dari kondisi fiskal, defisit transaksi berjalan atau current account deficit, hingga derasnya arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Selain itu, faktor lainnya, menurut Haris, yakni terkait menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional juga ikut menekan nilai tukar rupiah.
Harris meminta BI menyampaikan kondisi sebenarnya kepada publik agar pemerintah dan juga otoritas moneter dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Ini harus jujur diakui. Ada masalah di fiskal. Ada masalah di defisit current account. Ada arus modal keluar dalam jumlah besar, dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tutup Harris.















