PravadaNews – Pemerintah Indonesia incar kawasan Asia dan Afrika sebagai pasar baru ekspor untuk menggantikan pasar kawasan Timur Tengah.
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan) mengatakan, kawasan Timur Tengah saat ini sedang alami eskalasi karena perang antara AS-Israel dan Iran.
“Kita mencoba menjajaki di Afrika, kemudian Asia untuk menggantikan pasar di Timur Tengah,” ujar Menteri Busan kepada wartawan di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Minggu (4/5/2026).
Baca Juga: Nilai Ekonomi Kicau Burung Capai Rp2 Triliun
Menteri Busan menjelaskan, di tengah konflik biasanya akan terbuka pasar-pasar baru. Banyak negara yang membutuhkan pasokan sejumlah komoditas.
“Karena ada negara-negara tertentu pasokannya berhenti. Nah, kita kesempatan masuk,” jelas Menteri Busan.
Berdasarkan data pada Januari-Februari 2026, ekspor Indonesia tumbuh sebesar 2,19%, jika dibandingkan periode sebelumnya.
Menteri Busan mengatakan, neraca perdagangan Indonesia di kawasan Timur Tengah dalam kondisi bagus dan surplus.
“Timur Tengah itu pada Januari-Februari kita masih surplus non-migasnya 641 juta dolar AS, masih positif,” kata Menteri Busan.
Contohnya, ekspor burung hias Indonesia memiliki ekonomi yang sangat tinggi.
“Ekspor kita, burung hias itu tahun lalu sekitar Rp12,5 miliar,” jelas Menteri Busan.
“Kalau kita lihat nilai ekonomi di balik kicau burung itu sekitar Rp1,7 samlai 2 triliun,” tambah Menteri Busan.
Sementara itu, Ketua Persatuan Burung Indonesia (PBI) Pusat, Bagya Rahmadi menjelaskan, perlombaan burung kicau ini untuk memperkenalkan pelestarian burung kicau.
“Bukan semata-mata melombakan burung, tapi pelestarian. Jadi, kita mempunyai binaan para penangkar dan lomba burung adalah mengenalkan hasil tangkaran,” kata Bagya Rahmadi.
Bagya Rahmadi mengatakan, lomba burung itu bisa mengenalkan hasil produk dan dampaknya multiefek.
“UMKM bisa bergerak, perekonomian bergerak, dan alhamdulillah bisa membangkitkan perekonomian Indonesia. Itu kami berharap,” pungkas Bagya Rahmadi.















