PravadaNews – Pemerintah mengklaim babak baru ketahanan pangan nasional mulai terbentuk. Setelah bertahun-tahun bergantung pada impor, Indonesia kini justru berada pada posisi surplus dengan cadangan beras yang disebut tertinggi sepanjang sejarah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan membuka keran impor beras pada 2026. Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal kuat perubahan arah kebijakan pangan nasional yang sebelumnya sempat bergantung pada pasar global.
“Indonesia Impor beras 2023-2024, 7 juta ton dengan jagung. Kurang lebih Rp 100 triliun. Alhamdulillah kita tidak impor di 2025, insyaallah 2026 tidak impor. Kita saling mendoakan, kita kolaborasi insyaallah 2026 tidak impor beras,” kata Amran, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Program Bantuan Pangan Bikin Minyakita Berkurang di Pasaran
Lonjakan produksi dalam negeri menjadi kunci perubahan ini. Amran menyebut kondisi saat ini berbanding terbalik dengan periode 2023–2024, ketika Indonesia harus mengimpor jutaan ton beras untuk menutup kekurangan pasokan domestik.
Lebih jauh, pemerintah melihat capaian ini bukan sekadar keberhasilan nasional, tetapi juga berdampak pada dinamika pangan global. Dengan jumlah konsumsi beras yang melibatkan puluhan negara, posisi Indonesia dinilai mulai memainkan peran strategis.
“Ini berkontribusi pada rakyat Indonesia dan berkontribusi pada dunia, yang konsumsi beras yaitu 33 negara. Lalu, untuk sebagian penduduknya ada 170 negara. Jadi Indonesia sekarang berkontribusi pada dunia,” tutur Amran.
Cadangan beras pemerintah saat ini tercatat sekitar 5 juta ton, melampaui kapasitas gudang utama Perum Bulog yang hanya sekitar 3 juta ton. Untuk menampung kelebihan tersebut, pemerintah menggunakan skema sewa gudang tambahan.
Amran juga menekankan bahwa data stok tersebut tidak dibuat-buat dan telah melalui verifikasi ketat lintas lembaga. Transparansi menjadi kunci, mengingat risiko hukum jika terjadi manipulasi data.
“Hari ini Alhamdulillah hari di mana kebahagiaan petani itu tercapai. Kenapa, karena produksinya meningkat tentu pendapatannya meningkat. Kita mencapai stok Bulog 5.000.198 ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah dan selama kita merdeka,” ujar Amran.















