Ilustrasi gambar nilai tukar rupiah terus merosot tajam terhadap dolar AS. (Caption foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Rupiah Keok Imbas Lemahnya Tata Kelola Institusi

Rupiah Keok Imbas Lemahnya Tata Kelola Institusi

PravadaNews – Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi selama dua pekan lebih hingga saat ini berpotensi berdampak serius pada stabilisasi ekonomi nasional.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada Jumat (22/5/2026) kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 50 atau 0,28% menjadi Rp 17.697 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya nilai rupiah sempat menyentuh Rp 17.734 per dolar AS pada pukul 14.27 WIB tadi.

Sementara titik paling lemah rupiah sepanjang masa berada di Rp 17.748 per dolar AS yang tercatat pada 20 Mei lalu pukul 9.00 WIB di perdagangan intraday.

Keok nya nilai tukar rupiah pada dolar AS mendapatkan perhatian serius dari sejumlah pihak. Sebab, jika tak segera diselesaikan bakal memunculkan ketidakpercayaan terhadap pasar.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, menilai, salah satu faktor keoknya rupiah saat ini menyentuh hampir mencapai Rp 18.000 terjadi karena faktor institusi yang bermasalah.

Dalam keterangannya, sosok yang akrab disapa Didik itu mengatakan faktor tata kelola institusi menjadi salah satu penyebab awal yang mempengaruhi merosotnya nilai kepercayaan investasi di dalam negeri.

“Nilai tukar yang sekarang lemah terjadi karena faktor institusi yang bermasalah sehingga investasi (dalam dan luar negeri) tumbuh tidak memadai,” kata Didik kepada PravadaNews, Jumat (22/5).

Menurut Didik, tata kelola institusi dan pengawasan yang sejauh ini masih cukup buruk menimbulkan merosotnya daya saing komoditi ekspor dalam negeri.

Didik berpendapat lemahnya kuota ekspor produk dalam negeri juga telah berimbas terhadap cadangan devisa yang selama ini juga masih menjadi poin bantalan stabilitas ekonomi di Indonesia.

“Daya saing dan ekspor tidak cukup menghimpun cadangan devisa yang kuat, seperti Vietnam, Korea Selatan atau Cina,” terang Didik.

Oleh karena itu Didik menuturkan, salah satu jalan solusi pemerintah seharusnya menghindari berbagai sinyal negatif yang dapat memicu keresahan pelaku pasar.

Sebaliknya, pemerintah perlu juga membangun sinyal positif secara bertahap dengan tujuan untuk memulihkan respon kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

Didik mengatakan faktor aspek kepercayaan memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mampu memberikan kepastian bagi pasar.

Didik menambahkan pemerintah harus melakukan pembenahan atau reformasi secara struktural dengan harapan dapat mendorong daya saing ekspor dan iklim yang ramah investasi.

“Hanya dengan reformasi institusi menuju daya saing dan ekspor, serta iklim yang ramah investasi, maka sektor luar negeri kita akan dinamis dan cadangan devisa akan kuat sehingga nilai tukar tidak mudah jatuh seperti sekarang,” tutup Didik.

Kepala Ekonom S&P Global Ratings untuk Asia Pasifik, Louis Kuijs, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh aksi investor asing yang tengah menata ulang portofolio mereka.

Para pelaku pasar, kata Lois, juga masih mencermati perubahan regulasi terbaru di Indonesia.

Meski terjadi arus keluar modal asing atau capital outflow, Louis mengaku tetap optimistis prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan tetap solid.

“Kami berpendapat bahwa bank sentral Indonesia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan harga pangan, langkah-langkah pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan pelemahan mata uang,” ujar Louis dalam keterangan resminya.

Sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kenaikan itu turut diikuti penyesuaian suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen.

Kebijakan moneter ketat tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak geopolitik di kawasan Asia Barat yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Di pasar modal, tekanan terhadap IHSG tercermin dari tingginya aksi jual investor.

Berdasarkan data aplikasi IDX Mobile pada perdagangan Kamis, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp8,09 triliun di seluruh pasar. Sementara itu, investor domestik juga membukukan pelepasan saham senilai Rp10,3 triliun.

Di Didi lain, Louis juga menyoroti imbas konflik di Timur Tengah yang dinilai mendorong kenaikan harga energi global dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Lois menambahkan, lonjakan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi, menekan daya beli masyarakat, serta membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

“Kami memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang 2026,” tutup Louis.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *