Illustrasi Retinoblastoma pada Anak. (Foto: Dok. fk.unair.ac.id)

Beranda / Kesehatan / 5 Tanda Retinoblastoma pada Anak yang Wajib Diwaspadai

5 Tanda Retinoblastoma pada Anak yang Wajib Diwaspadai

PravadaNews – Kilatan putih di mata anak sering terlihat sepele ketika muncul dalam foto keluarga. Namun, pantulan kecil itu bisa menjadi awal kewaspadaan terhadap retinoblastoma.

Retinoblastoma patut diwaspadai karena banyak menyerang bayi dan balita, bukan hanya anak yang sudah bisa mengeluh sakit. Kanker ini tumbuh dari retina, bagian belakang mata yang menangkap cahaya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Ayo Sehat mencatat retinoblastoma sebagai kanker mata terbanyak nomor dua di Indonesia. Perkiraan kejadiannya mencapai 2,4 per 100.000 anak usia 0–17 tahun berdasarkan Sistem Registrasi Kanker Indonesia 2005–2007.

Risiko kematian juga tinggi karena banyak anak datang ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi itu membuat pengenalan gejala awal menjadi bagian penting dalam perlindungan penglihatan anak.

“Retinoblastoma adalah kanker mata yang berasal dari bagian belakang mata yang disebut retina, bagian yang berfungsi menangkap cahaya,” tulis laman tersebut, dikutip Sabtu (4/7/2026).

Pantulan putih pada pupil menjadi gejala yang paling sering dikenali orang tua. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut leukokoria atau “mata kucing” karena pupil tidak memantulkan warna merah normal.

Mata juling juga perlu diperiksa, terutama ketika arah pandang anak tampak tidak sejajar. Perubahan ini bisa muncul karena tumor mengganggu fungsi penglihatan dan pergerakan mata.

Kewaspadaan berikutnya muncul ketika anak sulit mengikuti gerakan benda di depannya. Gejala ini sering luput karena anak kecil belum mampu menjelaskan gangguan penglihatan yang dirasakan.

Mata merah, bengkak, hingga nyeri tanpa penyebab jelas juga tidak boleh diabaikan. Anak biasanya menjadi lebih rewel karena rasa tidak nyaman pada mata sulit ia sampaikan.

Pada kondisi lebih berat, bola mata dapat tampak menonjol dari posisi normal. Gejala ini dikenal sebagai proptosis bulbi dan perlu segera diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Riwayat keluarga ikut menentukan tingkat risiko karena sebagian kasus berkaitan dengan mutasi gen retinoblastoma 1 (RB1). Anak dari keluarga dengan riwayat retinoblastoma disarankan menjalani pemeriksaan mata sejak lahir.

Senada dengan itu, Alodokter menjelaskan, leukokoria perlu dikenali karena sering menjadi petunjuk awal retinoblastoma pada anak.

Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan kondisi mata anak dan menilai kemungkinan adanya tumor pada retina.

Dokter dapat memakai oftalmoskop, lalu melanjutkan pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) mata, computed tomography (CT) scan, magnetic resonance imaging (MRI), atau tes genetik sesuai kebutuhan medis.

Dalam hal ini, deteksi dini dapat dilakukan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) melalui pemeriksaan pantulan cahaya mata. Bila pantulan merah tidak muncul atau terlihat putih, anak perlu dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *