PravadaNews – Keterlibatan Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya dalam menjelaskan terkait kenaikan harga Pertamax melalui akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet dikritisi pengamat komunikasi politik, Hendri Satrio atau Hensa.
Hensa menilai, seharusnya yang menyampaikan soal kenaikan harga Pertamax adalah Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri.
“Harusnya Dirut Pertamina malu. Masa kenaikan harga Pertamax yang harus jelasin Seskab? Lama-lama citra Teddy bisa rusak karena selalu pasang badan,” kata Hensa kepada wartawan, dikutip Rabu (17/6/2026).
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu menilai langkah Seskab Teddy patut diapresiasi. Namun, cara kurang tepat, karena memberikan penjelasan ke publik melalui media sosial.
“Apa yang dilakukan Teddy itu meski bagus, tapi itu minimum banget. Dan lagi-lagi Teddy yang pasang badan, kalau diumumkan lewat Instagram saja, menurut saya kurang etis untuk urusan sebesar ini,” kata Hensa.
Baca Juga: Memahami Regulasi Beras Khusus
Hensa mengatakan, kenaikan harga Pertamax perlu disampaikan secara langsung kepada masyarakat. Hensa menilai, pemerintah dan Pertamina perlu menjelaskan alasan kenaikan, dampak kebijakan, serta dasar pertimbangannya melalui konferensi pers terbuka.
Sikap diam jajaran Direksi Pertamina, menurut Hensa, menunjukkan lemahnya keberanian perusahaan dalam berkomunikasi dengan publik. Padahal, transparansi menjadi kewajiban penting bagi perusahaan pelat merah yang produknya digunakan jutaan masyarakat setiap hari.
“Direksi Pertamina itu takut banget sama rakyat. Seharusnya kenaikan Pertamax ini diumumkan secara lisan, ada konferensi persnya, dan dijelaskan secara rinci mengapa harganya naik, apa dampaknya ke masyarakat. Bukan sekadar posting di Instagram,” ujar Hensa.
Hensa menilai pola komunikasi kebijakan energi perlu dibenahi agar tidak menimbulkan kesan saling menghindar dari tanggung jawab. Hensa menekankan, Pertamina sebagai pihak utama harus berani tampil menjelaskan kebijakan yang berdampak langsung kepada konsumen.
“Kita berterima kasih atas postingan Mas Seskab. Tapi ini bukan solusi jangka panjang. Lain kali, kalau ada apa-apa, komunikasikan langsung kepada rakyat, secara langsung, lisan, bervisual, dan jelas. Jangan tunggu sampai Seskab yang turun tangan,” pungkas Hensa.
Sementara itu, Seskab Teddy Indra Wijaya menjelaskan alasan kenaikan harga Pertamax melalui unggahan Instagram resmi Sekretariat Kabinet pada Jumat lalu. Teddy mengatakan, Pertamax yang merupakan BBM nonsubsidi, harganya mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
Dalam penjelasan itu, Teddy juga menegaskan harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan. Teddy menyebut Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Solar tetap Rp6.800 per liter. Dikatakan Seskab Teddy, pemerintah menahan kenaikan harga sejak harga minyak dunia bergerak naik pada Maret 2026 lalu.
Teddy membandingkan harga BBM Research Octane Number (RON) 92/95 di Indonesia dengan sejumlah negara lain. Perbandingan itu digunakan untuk menunjukkan harga Pertamax di Indonesia masih lebih rendah dibanding Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Singapura.















