Pravadanews – Perum BULOG memastikan ketersediaan beras untuk warga di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kondisi aman. Bulog menyiapkan 93.782 ton beras untuk dibagikan ke wilayah NTT.
Dari jumlah itu, sebanyak 26.336 ton beras telah disiagakan di lokasi pengungsian. Sementara sisanya, yakni 67.446 ton beras, masih dalam tahap mobilisasi yang dikirim dari sejumlah wilayah.
“BULOG menyiagakan stok beras sebanyak 93.782 ton untuk mendukung penanganan bencana di NTT. Stok tersebut berasal dari ketersediaan beras di wilayah NTT dan dukungan mobilisasi dari wilayah lain,” ujar Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangannya yang dikutip Senin, (24/8/2026).
Ahmad Rizal mengatakan, pasokan beras tersebut berasal dari Kantor Wilayah BULOG DKI Jakarta-Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat, serta Nusa Tenggara Barat. Namun, angka 93.782 ton beras tersebut baru tercapai apabila seluruh rencana pengiriman dari daerah lain telah terealisasi.
Lebih lanjut, Ahmad Rizal menjelaskan, beras-beras itu akan dipersiapkan untuk tiga kebutuhan, pertama, untuk penanganan bencana selama 14 hari. Untuk kebutuhan pertama ini, pihaknya membutuhkan 1.890 ton beras untuk 150.576 korban selama masa tanggap darurat.
Kedua, untuk antisipasi perpanjangan tanggap darurat. Pada kebutuhan kedua ini, BULOG menyiapkan kebutuhan tambahan hingga 18.900 ton. Lalu, yang ketiga, untuk bantuan pangan selama tiga bulan, yakni sebanyak 25.578 ton untuk 852.631 penerima bantuan pangan masing-masing akan memperoleh 10 kilogram beras per bulan.
Jika tiga kebutuhan tersebut dijumlahkan, maka akan mencapai 46.368 ton. Nanti, dalam proses pendistribusiannya, akan dilakukan secara cepat dan tepat supaya bisa segera diterima masyarakat.
“Dalam situasi bencana, kecepatan dan ketepatan distribusi menjadi sangat penting agar kebutuhan pangan masyarakat dapat segera dipenuhi,” kata Ahmad Rizal.
Dari total 93.782 ton beras yang disiagakan, BULOG masih memiliki ruang ketersediaan sekitar 47.414 ton setelah seluruh proyeksi kebutuhan tersebut dipenuhi.
“Kami tidak hanya menghitung kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan ruang stok untuk mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan. Prinsipnya, masyarakat terdampak bencana tidak boleh mengalami kesulitan mendapatkan pangan,” jelas Ahmad Rizal.
BULOG selanjutnya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk memastikan mobilisasi, penyimpanan, serta penyaluran beras berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, stok beras BULOG secara nasional tercatat mencapai 5,17 juta ton per 22 Agustus 2026. Stok tersebut digunakan untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus mendukung mobilisasi pasokan ke daerah yang membutuhkan.















