Ilustrasi IMF Proyeksikan Ekonomi RI. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / IMF Proyeksikan Ekonomi RI 2026 Melambat

IMF Proyeksikan Ekonomi RI 2026 Melambat

PravadaNews – Meletusnya konflik Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran diprediksi menimbulkan dampak serius terhadap kondisi ekonomi global. Konflik tiga negara itu juga telah mengancam pasokan harga minyak mentah melambung tinggi.

Adapun angka tren pertumbuhan ekonomi dunia dalam sepekan ini diprediksi terus melemah. Kondisi lemahnya pertumbuhan ekonomi itu turut dirasakan hampir seluruh negara.

Melemahnya ekonomi dunia imbas konflik itu kini juga turut dirasakan Indonesia. Dalam pekan ini, pihak Dana moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level terendah yakni sebesar 5% pada 2026.

IMF menyebut bahwa angka itu lebih rendah dari prediksi level pertumbuhan sebelumnya yakni sebesar 5,1%. Salah satu faktor penyebab melemahnya ekonomi Indonesia yakni dampak lonjakan harga komoditas dan energi imbas konflik di Timur Tengah.

Baca juga: IMF Apresiasi Stabilitas Ekonomi RI

“Perekonomian di seluruh dunia menghadapi dampak buruk melalui pengaruh langsung dari kenaikan harga komoditas,” tulis laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026, dikutip Senin (20/4/2026).

Sementara di negara-negara Asia Tenggara diprediksi juga turut merasakan dampak krisis global tersebut. Vietnam misalnya telah diproyeksikan mencatat ekonomi sebesar 7,1%.

Angka itu tercatat melampaui indonesia. Sementara di negara tetangga seperti Malaysia, telah tercatat berada di bawah Indonesia yang diproyeksikan sebesar 4,7%.

Kondisi bisa berubah jika konflik di Timur Tengah bisa mereda dalam beberapa minggu ke depan. Pada skenario dasar (baseline) IMF juga telah mengasumsikan bisa terjadi pemulihan ekonomi bertahap jika meredanya konflik di pertengahan 2026.

Kendati demikian, IMF juga turut mengingatkan mengenai kesiapan untuk menghadapi risiko skenario terburuk jika konflik berlangsung lebih lama dan semakin massif.

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi di sisi global juga terjadi pelambatan dari awal 3,4% pada tahun 2025 dan kemudian turun menjadi 3,1% di tahun 2026.

Faktor melemahnya ekonomi di sisi global itu yakni adanya tren kenaikan harga komoditas energi yang meloncat cukup tajam yakni sekitar 19% di 2026.

Dalam sepekan terakhir misalnya, harga minyak mentah dunia telah mencapai angka tertinggi yakni naik 21,4%. Angka kenaikan itu disebabkan gangguan produksi dan distribusi di kawasan Timur Tengah, dengan rata-rata harga mencapai US$ 82 per barel.

Imbas kenaikan harga minyak mentah itu juga turut mendorong harga pangan akibat terganggunya
jalur distribusi logistik global yaitu selat hormuz.

Lonjakan harga komoditas dan energi itu pun telah mempertajam jurang ketimpangan ekonomi dan sosial antarnegara. Dampak yang terbesar akan dirasakan negara yang tidak memiliki cadangan SDA dan bergantung terhadap impor.

Sementara untuk negara yang memiliki cadangan SDA seperti pengekspor energi justru akan sangat diuntungkan dengan ada nya fenomena ekonomi global seperti ini.

“Tanpa adanya perang, aktivitas ekonomi global sebenarnya berpotensi tetap berada di jalur stabil pada 2026, ditopang oleh ketahanan ekonomi di berbagai negara. Namun, konflik yang berlangsung saat ini menambah ketidakpastian dan menekan prospek pertumbuhan,” demikian laporan WEO edisi April 2026.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *