PravadaNews – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat bahwa individu yang pernah terinfeksi cacar air atau varicella zoster memiliki risiko mengalami cacar api di kemudian hari. Virus tersebut disebut tidak sepenuhnya hilang dari tubuh dan dapat kembali aktif ketika imunitas menurun.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan reaktivasi virus dapat dipicu oleh sejumlah kondisi, seperti penyakit penyerta, stres, hingga faktor usia.
“Masyarakat mungkin menganggap cacar api itu biasa-biasa saja, atau nanti diobati sembuh. Tapi pada kondisi-kondisi tertentu tadi bisa kena jantungnya, apalagi kalau dia punya hipertensi, diabetes melitus, dan biasanya orang tua juga gampang stres ya,” kata Nadia di Jakarta, dikutip Rabu (29/4/2026).
Baca juga : Manfaat Air Kunyit Dinilai Terbatas
Nadia menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui vaksinasi mandiri, terutama bagi kelompok usia di atas 50 tahun. Menurut Nadia kelompok dengan penyakit komorbid memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Nadia menyebut data hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan sekitar 60 juta penduduk Indonesia memiliki hipertensi, sementara 30 juta lainnya mengidap diabetes melitus.
“Kondisi tersebut meningkatkan potensi reaktivasi virus cacar api,” ungkap Nadia.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI), dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, FIHA, menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.
Ade menjelaskan bahwa sistem imun bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi gaya hidup sehari-hari.
“Sistem imun kita itu naik turun, kadang dia bagus, kadang dia jelek gitu. Jadi perlu diingat bahwa sistem imun itu tergantung dari lifestyle yang sehat,” ujar Ade.
Ade pun merekomendasikan olahraga rutin minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang, serta pengelolaan stres agar kondisi tubuh tetap stabil.
Selain itu, pola makan dan waktu istirahat juga dinilai berpengaruh terhadap kesehatan. Ade mengingatkan bahwa durasi tidur ideal berkisar 6–8 jam per hari, karena kekurangan maupun kelebihan tidur dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
“Di samping lifestyle yang sehat, apapun itu, tidurnya juga harus cukup. Kalau kurang dari 6 jam, risiko kardiovaskular meningkat, lebih dari 8 jam, risikonya juga meningkat,” pungkas Ade.















