PravadaNews – Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) yang digelar di Monumen Nasional (Monas) hari ini, Jumat (1/5/2026) memantik perhatian publik.
Adapun dalam pidato politiknya itu Presiden Prabowo menyinggung perilaku pejabat korup dan elite yang dinilainya serakah dan telah mejadi penyebab kerugian negara serta kemiskinan.
Menyikapi hal itu Pengamat politik Citra Institute, Efriza mengatakan pidato prabowo yang menyingung pejabat dan elit serakah itu adalah bentuk kesadaran pemerintah soal masih adanya penyakit-penyakit di dalam internal.
Efriza, menilai jika dicermati secara utuh, pidato prabowo itu tidak hanya semata-mata berisi kritik namun sekaligus langkah penegasan komitmen pemerintah terhadap kepentingan rakyat kecil.
Menurut dia, terdapat upaya Presiden menyampaikan laporan kinerja pemerintah yang ingin menunjukkan keberpihakan pada masyarakat bawah.
“Pidato menyinggung perilaku korup dan elite serakah sebagai bentuk refleksi kesadaran normatif atas problem klasik dalam tata kelola pemerintahan di negeri ini,” ujar Efriza kepada PravadaNews, Jumat (1/5).
Namun begitu, sorotan terhadap praktik korupsi dan keserakahan elite nasional, kata Efriza, juga tidak bisa dilepaskan dari realitas lama dalam skema tata kelola pemerintahan di Indonesia.
Efriza melihat pernyataan tersebut sebagai bentuk refleksi kesadaran normatif terkait persoalan klasik yang hingga saat ini belum juga sepenuhnya dapat teratasi.
“Singgungan terhadap perilaku korup dan elite politik serakah itu menunjukkan adanya pengakuan bahwa problem tersebut masih menjadi tantangan serius,” ungkap Efriza.
Menurut Efriza, pesan ganda dalam pidato Presiden Prabowo itu bisa dibaca antara kritik moral dan klaim kinerja menjadi strategi komunikasi politik yang lazim.
Di satu sisi, menurut Efriza, pidato itu juga menggambarkan Presiden berupaya membangun legitimasi melalui narasi keberpihakan.
Di sisi lain, tambah Efriza pidato itu menegaskan posisi sebagai presiden sebagai pihak yang telah menyadari masih ada persoalan pekerjaan rumah dan mengkritik penyimpangan dalam sistem.
“Pidato tersebut mengandung pesan bahwa pemerintah berusaha hadir dan peduli pada kepentingan rakyat kecil,” tutup Efriza.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato tegas yang menyinggung keras perilaku elit dan pengusaha yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Di hadapan ribuan buruh, petani, dan nelayan yang memadati lokasi acara, Prabowo turut mengawali pidatonya dengan poin refleksi mendalam terhadap kondisi sosial masyarakat.
Prabowo menilai, kelompok pekerja seperti buruh, petani, dan nelayan justru merupakan golongan yang paling jujur dan tulus, meskipun kehidupan mereka masih jauh dari sejahtera.
“Pengalaman saya, para pekerja, para petani, para nelayan justru yang hidupnya susah, mereka adalah orang-orang yang jujur, orang-orang yang ikhlas,” ujar Prabowo, di silang Monas Jakarta.
Prabowo mengungkapkan terkait keprihatinannya terhadap perilaku sebagian kalangan elit yang dinilai semakin jauh dari nilai kejujuran seiring meningkatnya jabatan dan kekuasaan.
Presiden juga menyoroti fenomena ironi di tengah masyarakat, di mana tingkat pendidikan yang semakin tinggi tidak selalu diiringi dengan integritas yang kuat.
“Saya heran, semakin pintar, banyak yang pintar, tapi tidak semuanya menunjukkan kejelasan sikap dan tanggung jawab,” lanjut Prabowo.
Dalam kesempatan nya Prabowo secara terbuka mengecam praktik korupsi dan kolusi antara pejabat dan pengusaha yang merugikan negara.
Prabowo menegaskan tidak akan takut dan memberikan peluang terhadap “maling-maling” yang merampok kekayaan negara dan memiskinkan rakyat.
“Negara dirampok oleh maling-maling. Saya tidak rela,” ujarnya dengan nada tinggi yang disambut riuh massa.















