PravadaNews – Pemerintah terus memantau perkembangan harga sejumlah komoditas pangan strategis di tengah kondisi inflasi yang masih relatif terkendali.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan beberapa kebutuhan pokok seperti minyak goreng, bawang merah, gula pasir, dan beras saat ini masih berada dalam kondisi stabil.
Meski demikian, Tito menegaskan pemerintah tetap memberi perhatian khusus terhadap komoditas utama yang sangat memengaruhi kebutuhan masyarakat sehari-hari, terutama beras dan minyak goreng.
“Kemudian minyak goreng, bawang merah, gula pasir, beras relatif terkendali. Perlu kita waspadai betul, tentu komoditas beras, ini makanan pokok. Minyak goreng itu juga penting sekali, daging sapi dan daging ayam ras,” ujar Tito dikutip Selasa (19/5/2026).
Tito menjelaskan, harga daging ayam ras mengalami penurunan di 232 kabupaten dan kota sehingga kondisinya saat ini dinilai cukup terkendali.
Menurutnya, stabilitas tersebut tidak terlepas dari berbagai langkah intervensi yang dilakukan pemerintah melalui Perum Bulog, Badan Pangan Nasional, dan Kementerian Pertanian.
Selain daging ayam ras, harga telur ayam ras juga menunjukkan tren penurunan di 246 kabupaten/kota. Kedua komoditas peternakan tersebut bahkan tercatat mengalami deflasi pada April lalu.
Tito menyebut pemerintah masih bersyukur karena tingkat inflasi tahunan atau year on year pada April 2026 berada di angka 2,42 persen. Namun demikian, pemerintah tetap mewaspadai perkembangan ekonomi pada Mei, terutama dampak kenaikan harga minyak dan pergerakan nilai tukar mata uang.
“Kita masih bersyukur bahwa inflasi year on year masih di angka 2,42 persen di bulan April. Namun bulan Mei ini kita harus mengamati betul perkembangan dari dampak terutama kenaikan harga minyak dan juga kurs mata uang,” tuturnya.
Pemerintah, lanjut Tito, akan terus melakukan berbagai intervensi dari sektor hulu hingga hilir guna menjaga stabilitas harga pangan. Langkah tersebut dilakukan agar tidak terjadi gejolak maupun deflasi yang terlalu dalam pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras, sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menjelaskan pentingnya keseimbangan dan kewajaran harga.
“Kami akan lakukan intervensi justru (terhadap) rendahnya harga ayam ras tingkat peternak. Ini di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sudah 8 persen. Kemudian telur ayam ras sudah 8 persen,” jelas Ketut dalam kesempatan yang sama.















