PravadaNews – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026 di tengah Indeks Menabung Konsumen (IMK) yang masih berada di level 79,7 pada April 2026.
Ekonom UI, Vid Adrison mengatakan, data tabungan perlu dibaca bersama angka pertumbuhan untuk melihat kondisi daya beli masyarakat.
Vid menyampaikan, pembacaan ekonomi tidak cukup hanya bertumpu pada pengalaman perorangan yang bersifat anekdotal.
Menurut Vid, statistik rumah tangga, termasuk tabungan, dapat melihat secara riil apakah pertumbuhan benar-benar terasa di masyarakat.
“Anekdotal berguna, tapi yang paling penting adalah statistik secara general. Tabungan, data tabungan ini sudah menunjukkan bahwa yang kelas atas, yang kelas bawah mengalami penurunan,” kata Vid, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Ekspor CPO Naik: Industri Sawit Penopang Ekonomi RI?
Senior Researcher LPEM FEB UI itu menjelaskan, penurunan tabungan pada kelompok atas dan bawah menjadi sinyal adanya tekanan di balik pertumbuhan ekonomi.
Kondisi itu membuat angka pertumbuhan di atas 5 persen belum otomatis mencerminkan penguatan daya beli secara merata.
Dalam membaca pertumbuhan, Vid mengingatkan perbandingan Indonesia dengan negara maju tidak selalu tepat untuk menggambarkan kondisi ekonomi domestik.
Kualitas pertumbuhan perlu dilihat dari kemampuan ekonomi menjaga pendapatan, konsumsi, dan ruang menabung masyarakat.
Vid berujar, daya beli juga berkaitan dengan arah kebijakan yang mendorong permintaan masyarakat. Dorongan belanja dapat membantu ekonomi dalam jangka pendek, tetapi tetap perlu dijaga agar tidak berubah menjadi tekanan harga.
“Belanja barang dan belanja modal. Jangan fokus di belanja barang, kecuali memang dalam kondisi aggregate demand itu rendah,” ungkap Vid.
Lebih lanjut, pertumbuhan yang bertumpu pada permintaan perlu diimbangi kemampuan produksi.
Keseimbangan tersebut diperlukan agar kenaikan aktivitas ekonomi tidak menekan masyarakat melalui inflasi dan pelemahan daya beli.
Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LSP) mencatat IMK berada di level 79,7 pada April 2026. Angka tersebut naik tipis 0,2 poin dari Maret 2026 yang berada di level 79,5, tetapi masih menunjukkan ruang menabung konsumen belum kuat.
“Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada April 2026 naik tipis 0,2 poin ke level 79,7 dari bulan Maret 2026 sebesar 79,5,” tulis LPS dalam keterangan resminya.
Data tabungan tersebut menjadi pembanding terhadap pertumbuhan ekonomi yang masih kuat pada awal 2026. Dengan konsumsi tetap menjadi penopang utama ekonomi, indikator tabungan menunjukkan daya beli masyarakat masih perlu dicermati lebih dalam. (Nur Aida Nasution)















