Ekspor CPO Naik: Industri Sawit Penopang Ekonomi RI?. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Ekspor CPO Naik: Industri Sawit Penopang Ekonomi RI?

Ekspor CPO Naik: Industri Sawit Penopang Ekonomi RI?

PravadaNews – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya tumbuh 16,58 persen secara kumulatif pada Januari-April 2026 secara year-on-year (YoY). Volume ekspor komoditas tersebut juga naik 1,31 juta ton secara YoY.

Dalam laporannya, volume ekspor CPO dan turunannya mencapai 7,72 juta ton pada Januari-April 2026, meningkat dari 6,41 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja itu menempatkan CPO dan turunannya sebagai salah satu komoditas penting dalam struktur ekspor nonmigas Indonesia.

CPO dan turunanya pada periode Januari hingga April 2026 naik sebesar 16,59% jika dibandingkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya atau YoY.

“CPO dan turunannya naik 16,58% secara komulatif,” ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini saat Konferensi Pers, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga: Ekspor CPO Melonjak Januari-April 2026

Di tengah kenaikan ekspor itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai sawit masih menjadi penopang penting perekonomian nasional.

“Di tengah tantangan pasar global, industri sawit masih memegang peran penting bagi perekonomian nasional, selain menjadi sumber devisa, sektor ini juga menyerap jutaan tenaga kerja,” ujar Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dikutip Selasa (2/6/2026).

Namun, GAPKI memandang kenaikan ekspor CPO belum otomatis mencerminkan kekuatan Indonesia dalam pembentukan harga global. Posisi sebagai produsen besar masih perlu diikuti penguatan daya tawar di pasar internasional.

Harga CPO hingga kini masih bergerak mengikuti mekanisme pasar dunia. Perubahan pasokan, permintaan, kondisi ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan dinamika perdagangan internasional tetap memengaruhi harga minyak sawit mentah.

Dalam kondisi tersebut, penguatan ekspor perlu dibaca bersama tantangan posisi tawar Indonesia di rantai perdagangan global.

“Ke depan, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya mempertahankan posisi sebagai produsen terbesar dunia, tetapi juga memperkuat daya tawar agar industri sawit nasional memiliki pengaruh lebih besar terhadap pembentukan harga di pasar internasional,” kata Eddy.

Tantangan lain datang dari persaingan CPO dengan minyak nabati lain di pasar global. Minyak kedelai, minyak bunga matahari, rapeseed oil, dan minyak jagung memberi banyak pilihan bagi pembeli ketika harga salah satu komoditas bergerak naik.

Persaingan itu membuat Indonesia belum dapat menentukan harga CPO secara sepihak meski memiliki basis produksi besar.

Harga sawit tetap mengikuti dinamika minyak nabati global karena permintaan dapat bergeser ke produk substitusi saat CPO dinilai tidak kompetitif.

Diketahui, CPO dan turunannya masuk dalam kelompok komoditas strategis yang menjadi perhatian pemerintah melalui skema ekspor satu pintu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat pencatatan nilai ekspor dan menjaga devisa, sementara kelancaran perdagangan CPO tetap perlu dijaga agar kenaikan ekspor tidak berubah menjadi tekanan baru bagi pelaku usaha. (AIDA)

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *