PravadaNews – Musisi Baskara Putra mengungkapkan dampak pelemahan rupiah terhadap biaya alat musik dan kebutuhan harian melalui akun X pribadinya.
Curhatan vokalis band Hindia itu memperlihatkan tekanan kurs tidak hanya menyentuh pelaku usaha, tetapi juga pekerja industri kreatif.
Keresahan tersebut disampaikan Baskara ketika nilai tukar rupiah kembali berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Kondisi itu membuat sejumlah barang berbasis impor dan kebutuhan harian terasa lebih mahal dibanding sebelumnya.
Baskara mengakui kondisi finansialnya relatif lebih aman dibanding banyak orang. Namun, dirinya tetap merasakan dampak kenaikan harga barang akibat pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
“Gue cukup pede untuk bilang bahwa gue ‘mampu’. Ada privilege dari pekerjaan gue sebagai musisi yang, puji tuhan, berhasil dan uangnya lebih dari cukup,” tulis Baskara melalui akun X @wordfangs, dikutip Sabtu (5/6/2026).
Baca Juga: Anak Amanda Manopo-Kenny Lahir di Tanggal Serba Enam
Pelantun lagu Evaluasi itu kemudian menyinggung kebutuhan alat musik yang banyak menggunakan patokan dolar AS. Menurut Baskara, pelemahan rupiah langsung membuat belanja perangkat musik menjadi lebih mahal bagi pekerja kreatif.
“Akhir-akhir ini gue merasa terdampak dengan kenaikan harga barang-barang karena rupiah yang melemah. Kalau gue aja terdampak, gue gak kebayang kalian bakal gimana. Serem,” lanjut Baskara.
Meski begitu, Baskara menegaskan persoalan tersebut tidak berhenti pada kebutuhan profesional sebagai musisi. Selebriti itu juga merasakan kenaikan pengeluaran makan bulanan dan kebutuhan esensial lain dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, tekanan kurs rupiah memang masih terlihat pada awal perdagangan pekan ini. Nilai tukar rupiah kembali melemah ketika pasar spot bergerak di atas Rp18.100 per dolar AS.
Berdasarkan pantauan PravadaNews pada Senin (8/6) pukul 10.00 WIB, rupiah melemah 71 poin atau 0,39 persen menjadi Rp18.107 per dolar AS. Posisi itu turun dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.
Kondisi tersebut menjadi latar dari keresahan Baskara terhadap kenaikan biaya hidup dan kebutuhan industri kreatif. Dalam sektor musik, pelemahan rupiah dapat memengaruhi harga instrumen, perangkat produksi, lisensi, hingga kebutuhan teknis yang masih bergantung pada barang impor.















