PravadaNews – Kini bahasa Madura menemukan panggung baru lewat film Foufo. Film karya Bayu Skak itu membawa logat, keluarga, dan keseharian orang Madura ke dalam cerita komedi fiksi ilmiah.
Foufo tidak hanya menjual kelucuan alien yang jatuh ke Bumi, tetapi juga menawarkan ruang bagi bahasa daerah. Cerita itu menjadi relevan ketika bahasa ibu semakin membutuhkan medium populer agar tetap dekat dengan generasi muda.
Film produksi Skak Studios dan Sinemart tersebut mengisahkan Muslim, pria Madura yang sedang berupaya mencari uang untuk biaya haji ibunya. Di tengah keterdesakan itu, benda asing jatuh dari langit dan mempertemukannya dengan sosok alien bernama Foufo.
Sutrada Film Foufo, Bayu Skak mengatakan, gagasan film ini berangkat dari pertanyaan sederhana tentang pertemuan alien dengan keluarga Madura.
“Kami ingin membawa sesuatu yang baru di perfilman Indonesia, yakni komedi sci-fi. Cerita awalnya adalah sangat sederhana, bagaimana jika alien jatuh di Madura, dan dia bertemu dengan keluarga Madura? Itu menjadi sesuatu yang unik,” ujar Bayu dalam keterangan resmi yang diterima PravadaNews, Senin (15/6/2026).
Baca Juga: Ini Jadwal Konser Jakarta Fair 14–21 Juni 2026
Komedi fiksi ilmiah atau science fiction itu membuat lokalitas tidak hanya menjadi latar, tetapi ikut menggerakkan cerita. Bayu menempatkan bahasa Madura sebagai bagian dari karakter, situasi komedi, dan identitas sosial yang melekat pada tokoh.
Pilihan itu juga terlihat dari proses produksinya yang banyak melibatkan pemain hasil casting di Madura. Film ini menggabungkan animasi dan live action atau pengambilan gambar dengan pemeran nyata, dengan sekitar 80 persen pemain berasal dari proses casting lokal.
Selain Tretan Muslim sebagai pemeran utama, Foufo turut dibintangi Habib Jafar, Benedictus Siregar, Mieke Shahir, dan Siti Kamariyah. Diketahui, Foufo dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026.
Di sisi lain, isu bahasa daerah juga menjadi perhatian pemerintah melalui program Revitalisasi Bahasa Daerah.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat Indonesia memiliki lebih dari 718 bahasa daerah.
Pemerintah juga menyiapkan peta jalan Revitalisasi Bahasa Daerah 2025-2029 untuk memperkuat pendidikan berbasis bahasa ibu dan pemanfaatan media digital.
Dalam hal itu, Foufo memperlihatkan bahwa bahasa daerah bisa masuk ke ruang hiburan modern tanpa kehilangan akar budayanya.















