Ilustrasi makanan instan. (Foto: Dok. Halodoc)

Beranda / Kesehatan / Jangan Banyak Konsumsi Makanan Instan

Jangan Banyak Konsumsi Makanan Instan

PravadaNews – Ketika tanggal tua makanan instan menjadi jalan tercepat untuk menunda lapar bagi masyarakat, terutama anak muda.

Kebiasaan itu mulai menjadi perhatian kesehatan karena konsumsi makanan ultra-proses secara berulang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usia muda.

Persoalan ini tidak hanya menyangkut pilihan makan sesaat, tetapi pola konsumsi yang berlangsung terus-menerus.

Halodoc menjelaskan, makanan kemasan biasanya memakai bahan tambahan untuk menjaga rasa, hingga masa simpan. Pada mi instan, monosodium glutamat (MSG) sering dibahas, meski bukan satu-satunya bahan yang perlu diperhatikan.

Platform kesehatan itu menilai, konsumen perlu mencermati pengawet buatan yang tercantum dalam label kemasan.

“Bila dikombinasikan dengan asam askorbat, pengawet buatan tersebut bisa berubah menjadi benzena, zat yang bisa meningkatkan risiko kanker,” tulis Halodoc, dikutip Senin (22/6/2026).

Baca Juga: 4 Manfaat Daun Salam bagi Kesehatan

Selain itu, risiko makanan instan juga berkaitan dengan kebiasaan menjadikannya menu utama dalam jangka panjang. Pola tersebut dapat membuat tubuh menerima asupan gizi yang tidak seimbang.

Konsumsi yang terlalu sering dapat memengaruhi tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol. Dampak itu menjadi lebih penting diperhatikan pada orang yang sudah memiliki faktor risiko penyakit metabolik.

Karena itu, makanan instan tidak ideal ditempatkan sebagai pengganti makanan segar dalam rutinitas harian. Tubuh tetap membutuhkan asupan bergizi yang lebih beragam untuk menjaga fungsi organ dan daya tahan.

Dari sisi kebijakan, pencegahan tidak cukup berhenti pada imbauan agar masyarakat mengurangi makanan instan. Edukasi label pangan dan akses terhadap makanan bergizi perlu menjadi bagian dari pengendalian risiko penyakit kronis.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menempatkan pola makan modern sebagai salah satu perhatian dalam pengendalian kanker nasional. Kemenkes mencatat makanan ultra-proses yang meningkatkan risiko kanker, seperti minuman bersoda, mi instan, dan makanan cepat saji.

Dalam kerangka pengendalian kanker, Kemenkes merujuk data Global Cancer Observatory (Globocan) yang mencatat 408.661 kasus baru kanker di Indonesia pada 2022. Data itu menunjukkan pencegahan perlu diperkuat melalui edukasi konsumsi, hingga skrining dini.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *