PravadaNews – Situasi keamanan perbatasan Iran lagi-lagi menjadi sangat gawat akibat eskalasi militer mendadak yang mengancam stabilitas geopolitik dan perjanjian damai yang ada.
Markas Besar Khatam al-Anbiya melayangkan peringatan melalui pernyataan resmi mereka terkait pergerakan pesawat militer asing yang mengancam kedaulatan wilayah udara Republik Islam Iran.
Lembaga pertahanan Markas Besar Khatam al-Anbiya menilai kehadiran armada tempur rezim Zionis di negara tetangga sebagai provokasi berbahaya bagi stabilitas keamanan regional.
“Kami menganggap pergerakan dan kehadiran pesawat militer dari tentara teroris rezim Zionis di langit beberapa negara tetangga menuju Iran sebagai tindakan berbahaya dan ancaman terhadap Republik Islam Iran,” tulis laporan militer Iran, melansir Kantor Berita IRNA, dikutip Sabtu (27/6/2026).
Langkah preventif ini diambil sebagai kebijakan strategis untuk melindungi integritas wilayah dari ancaman yang menyasar sistem pertahanan nasional. Selain itu, otoritas militer menyatakan bahwa negara memiliki hak penuh merespons setiap tindakan berbahaya dari pihak eksternal tersebut secara tegas.
Di samping itu, pihak militer Iran menganggap setiap pelanggaran wilayah sebagai tantangan terbuka terhadap prinsip diplomasi dan kesepakatan gencatan senjata yang berlaku. Kebijakan pertahanan kini menitikberatkan pada kesiagaan penuh dalam menghadapi ancaman serangan yang terus meningkat di wilayah Selat Hormuz tersebut.
“Jika Amerika Serikat tidak mampu menahan dan mengendalikan rezim Zionis, Republik Islam Iran tidak akan mentolerir ancaman apa pun terhadap dirinya dan menganggap menanggapi tindakan berbahaya ini sebagai haknya,” tulis laporan militer Iran.
Sementara itu, dinamika lapangan berubah drastis setelah laporan intelijen mengungkap aktivitas militer Amerika Serikat di wilayah Selat Hormuz pada Jumat kemarin. Jurnalis PBS News Nick Schifrin mengonfirmasi adanya serangan udara melalui pernyataan resmi pejabat Amerika Serikat yang disampaikan kepadanya di platform X.
“Seorang pejabat AS mengatakan kepada saya bahwa 6 pesawat AS menyerang 4 target Iran: instalasi radar serta penyimpanan rudal dan drone di Sirik, Iran,” tulis Schifrin melalui akun X pribadinya.
Lebih lanjut, Schifrin merinci bahwa target utama serangan tersebut mencakup instalasi radar serta penyimpanan rudal dan drone yang berada di wilayah Sirik, Iran. Keterangan tersebut berasal dari seorang pejabat Amerika Serikat yang memberikan informasi langsung kepada Schifrin.
Selain itu, tercatat dalam pernyataan seorang pejabat Amerika Serikat mengenai penggunaan 6 pesawat Amerika Serikat dalam operasi penyerangan terhadap 4 target Iran. Hal tersebut terbatas hanya pada informasi rincian jumlah armada serta lokasi sasaran yang dihantam selama operasi militer berlangsung di wilayah Sirik.
Seperti diketahui, ketegangan militer di Selat Hormuz menempatkan stabilitas geopolitik dunia dalam kondisi yang semakin gawat dan memerlukan resolusi kebijakan yang sangat mendesak. Tanpa upaya dialog yang substantif dari pihak Amerika Serikat, kawasan tersebut akan terus menjadi medan konflik terbuka yang mengancam keseimbangan kekuatan global.















