Minyak Kelapa Sawit atau Crude Palm Oil. (Foto: Dok. Astra Agro Lestari)

Beranda / Ekonomi / Kenapa Harga Referensi CPO Juli 2026 Turun?

Kenapa Harga Referensi CPO Juli 2026 Turun?

PravadaNews – Pelaku ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali menghadapi penyesuaian harga acuan pada Juli 2026. Di tengah permintaan global yang melemah, perdagangan komoditas ini ikut bergeser. Harga Referensi (HR) CPO juga menentukan dasar pengenaan Bea Keluar (BK) dan Pungutan Ekspor (PE).

Diketahui, Kementerian Perdagangan menetapkan HR CPO periode Juli 2026 sebesar US$1.000,90 per metrik ton (MT). Nilai tersebut turun US$28,61 atau 2,78% dari posisi Juni 2026 sebesar US$1.029,51 per MT.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tommy Andana menyebut, penurunan ini mengikuti pergerakan harga global. Tekanan utama datang dari melemahnya permintaan India sebagai salah satu pembeli besar minyak sawit.

“HR CPO periode Juli 2026 turun dibandingkan periode sebelumnya. Sesuai ketentuan, pemerintah menetapkan BK sebesar USD 148 per MT dan PE sebesar 12,5 persen dari HR CPO atau setara USD 125,11 per MT,” tutur Tommy dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga: 3 Faktor Penyebab Turunnya Minat Investor Asing

Dengan acuan terbaru itu, tarif BK minyak sawit mentah ditetapkan sebesar US$148 per MT. Adapun PE berada di level 12,5% dari HR CPO atau setara US$125,11 per MT.

Perhitungan HR Juli memakai rata-rata harga periode 20 Mei sampai 19 Juni 2026. Pemerintah memakai data Bursa CPO Indonesia sebesar US$890,84 per MT dan Bursa CPO Malaysia sebesar US$1.110,97 per MT.

Harga Rotterdam sebenarnya berada jauh lebih tinggi, yakni US$1.468,28 per MT. Namun, selisih tiga sumber harga melewati US$40 sehingga pemerintah memakai mekanisme median sesuai Permendag Nomor 35 Tahun 2025.

Melalui mekanisme tersebut, harga Bursa Malaysia ikut masuk dalam perhitungan HR CPO Indonesia. Pada 1 Juli 2026, kontrak acuan Bursa Malaysia untuk pengiriman September naik RM29 menjadi RM4.575 per MT.

Penguatan itu terjadi setelah minyak kedelai di Chicago pulih dan ringgit melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan ringgit membuat minyak sawit Malaysia lebih kompetitif bagi pembeli luar negeri.

Sebelumnya, Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori menilai, Indonesia dan Malaysia tetap menjadi poros utama pasar sawit dunia. Dua negara tersebut menguasai sekitar 75-80% pasokan global.

Menurutnya, minyak sawit yang diperdagangkan di pasar internasional tetap harus memenuhi kualifikasi mutu.

“Pasokan dari Indonesia itu akan sangat menentukan tinggi rendahnya harga sawit di pasar dunia karena Indonesia sebagai produsen terbesar,” kata Khudori kepada PravadaNews, dikutip Selasa (2/7).

Harga minyak sawit, jelas Khudori, tidak bergerak karena satu faktor saja. Pasar juga membaca permintaan, pasokan, kebijakan produsen, serta persaingan dengan minyak nabati lain.

Hal ini membuat kebijakan domestik Indonesia ikut memengaruhi ruang ekspor CPO. Ketika sebagian produksi terserap untuk biodiesel, pasar global akan membaca ulang pasokan dari Indonesia dan peluang pasokan dari Malaysia.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *