PravadaNews – Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Meski menjadi salah satu yang tertinggi di Asia, kondisi tersebut belum mampu mengembalikan minat investor asing ke pasar keuangan domestik.
Laporan Market Outlook 2H26 dari PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menyoroti adanya paradoks di pasar modal Indonesia. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatat kinerja yang tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan.
“Secara logika, pertumbuhan yang tinggi dan harga saham yang sudah relatif murah seharusnya membuat para investor dunia berebut menanamkan modalnya di tanah air. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya,” kata Direktur UTAMA PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Changkun Shin kepada PravadaNews, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: Harga Emas Galeri24-UBS Tak Bergerak
Menurut laporan tersebut, IHSG sempat terkoreksi hingga 39,1 persen per akhir Juni 2026. Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah juga sempat melemah hingga menyentuh Rp18.190 per dolar Amerika Serikat.
Kiwoom menilai perubahan preferensi investor global menjadi salah satu penyebab utama kondisi tersebut. Investor kini lebih banyak mengalihkan dana ke sektor yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan robotik.
Laporan itu menyebut pasar saham Indonesia masih didominasi sektor tradisional seperti perbankan, komoditas, dan konsumsi. Kondisi tersebut dinilai membuat daya tarik Indonesia kalah dibandingkan negara yang lebih agresif mengembangkan sektor teknologi.
“Akibatnya, Indonesia dinilai kurang memiliki daya tarik dalam pesta teknologi global tersebut,” ujarnya.
Kiwoom juga menyoroti langkah sejumlah negara di kawasan, termasuk Vietnam. Negara tersebut dinilai lebih progresif dalam mengadopsi teknologi AI serta melakukan reformasi ekonomi untuk menarik investasi.
Selain faktor eksternal, laporan tersebut menilai daya beli masyarakat juga menjadi perhatian. Meski pertumbuhan ekonomi tercatat tinggi, kondisi keuangan kelompok masyarakat bawah dan menengah disebut mulai menghadapi tekanan.
“Kantong masyarakat bawah dan menengah sebenarnya mulai menipis dan mulai makan tabungan,” ujarnya.
Kiwoom mencatat adanya fenomena penurunan porsi tabungan masyarakat dibandingkan masa sebelum pandemi. Kondisi itu disebut sebagai indikasi masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Laporan tersebut menyebut pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga daya beli. Di antaranya berupa bantuan pangan bagi puluhan juta penerima serta pemberian diskon transportasi.
Faktor lain yang dinilai krusial adalah evaluasi dari MSCI terhadap pasar keuangan Indonesia. Lembaga penyusun indeks global itu disebut memberikan tenggat hingga November 2026 untuk memperbaiki sejumlah aspek pasar.
“Mereka memberikan tenggat waktu hingga November 2026 bagi Indonesia untuk memperbaiki transparansi pasar,” jelas dia.
Menurut Kiwoom, perbaikan yang dimaksud mencakup transparansi pasar, kemudahan akses bagi investor asing, serta aturan investasi. Hasil evaluasi tersebut dinilai akan menjadi perhatian pelaku pasar global.
Laporan itu juga mengingatkan adanya risiko apabila Indonesia tidak menunjukkan kemajuan yang memadai. Status pasar modal Indonesia berpotensi turun dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Kiwoom menilai perubahan status tersebut dapat memicu arus keluar modal asing dalam jumlah yang lebih besar. Karena itu, perbaikan tata kelola dan peningkatan daya saing pasar dinilai menjadi faktor penting untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Di lain pihak, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengakui kondisi IHSG yang terus melemah tidak bisa dianggap sebagai situasi yang normal. Menurutnya, pelemahan berkepanjangan harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab,” ujar Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026).















