PravadaNews – Kementerian Koordinator Bidang Pangan mendorong program Green and Smart Port Initiative (GSPI) ASRI 2026.
Program tersebut diarahkan untuk mendukung penguatan logistik pangan, pembangunan berkelanjutan, dan ketahanan pangan Indonesia.
Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Tatang Yuliono menilai, GSPI dapat mendukung produk pangan melalui digitalisasi.
“Dengan adanya green and smart ini akan lebih mendukung juga karena digitalisasi,” kata Tatang saat ditemui di Jakarta. Rabu (1/7/2026).
Tatang mengatakan, produk pangan dan GSPI berada pada ruang berbeda. Namun, keduanya tetap berkaitan dalam penguatan tata kelola distribusi pangan.
Dengan demikian, GSPI 2026 tetap berada dalam kerangka penguatan logistik pangan melalui tata kelola pelabuhan dan digitalisasi. Namun, program ini tidak menempatkan CPP sebagai bagian langsung dari penguatan tersebut.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pelestarian Sumber Daya Pangan Kemenko Bidang Pangan, Nani Hendiarti menilai, aspek lingkungan menjadi bagian utama GSPI ASRI 2026. Nani menyebut limbah pelabuhan, limbah kapal, energi terbarukan, dan ruang hijau masuk dalam penilaian.
Di sisi lain, Nani melihat program ini dapat berkembang menjadi insentif bagi badan usaha pelabuhan yang menjalankan praktik hijau. “Kita sudah akan masuk green port, ini mungkin akan masuk ke dalam skema carbon price,” kata Nani.















