PravadaNews – Pemutusan hubungan kerja (PHK) industri bukan semata efek kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), karena lemahnya ekosistem teknologi dan ketidakpastian kebijakan masih menekan sektor produksi.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudistira menilai AI belum menjadi penyebab utama PHK industri. Lebih lanjut, posisi Indonesia dalam rantai pasok data center dan pengembangan AI masih tertinggal di Asia.
“Bukan AI yang membuat PHK, terutama di industri. Apakah industrinya akan menjadi industri full otomotik? Jawabannya nggak,” jelas Bhima ditemui di Tebet, dikutip Sabtu (3/7/2026).
Baca juga: Ancaman PHK Hantui Sektor Industri
Adapun Bhima menyebut Vietnam, Malaysia, Tiongkok, dan negara lain lebih terhubung dengan ekosistem chip serta teknologi. Posisi tersebut membuat narasi PHK akibat AI belum sejalan dengan kapasitas teknologi Indonesia.
Selanjutnya, tekanan industri dinilai lebih dekat dengan kebijakan yang sulit dipastikan. Industri membutuhkan arah panjang untuk menghitung produksi, kebutuhan tenaga kerja, pelatihan, dan keberlanjutan usaha.
“Investasi di Indonesia nggak bisa dipegang dari sisi kebijakan. Industrinya 10-15 tahun mau investasi, tapi kebijakan itu berubah bahkan setiap minggu,” kata Bhima.
Di sisi lain, Bhima menilai persoalan PHK tidak berdiri pada teknologi semata. Kepastian aturan menjadi faktor penting karena memengaruhi produksi, biaya, dan keputusan industri mempertahankan pekerja.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Telisa Aulia Falianty menilai AI tetap penting dalam pembangunan ekonomi. Namun, Telisa menekankan teknologi harus ditempatkan sebagai alat, bukan pusat arah pembangunan.
“Teknologi tetap penting, tetapi posisinya sebagai alat. Manusia tetap harus menjadi pihak yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah terhadap teknologi,” ucap Telisa, Rabu (1/7).
Di sisi lain, Telisa menilai manusia memiliki integritas, humanisme, dan nilai yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada teknologi. Karena itu, PHK industri lebih tepat dikaitkan dengan kepastian kebijakan dan perlindungan pekerja, bukan sekadar efek AI.















