PravadaNews – Ketika impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor, surplus dagang Indonesia tidak lagi setebal sebelumnya. Di ruang yang makin sempit itu, kelapa sawit dan turunannya masih memberi bantalan bagi ekspor nonmigas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus perdagangan Januari–Mei 2026 tercatat tersisa US$4,03 miliar. Ekspor tumbuh 3,02%, sementara impor naik lebih tinggi sebesar 15,24%.
Kondisi tersebut membuat kontribusi komoditas nonmigas makin penting bagi neraca perdagangan nasional. Kelapa sawit berada di antara komoditas yang masih memberi dorongan pada arus ekspor.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat kelapa sawit dan turunannya menjadi komoditas tumbuhan terbesar dalam layanan ekspor Semester I 2026. Nilainya mencapai Rp32,03 triliun pada paruh pertama tahun ini.
Nilai itu jauh melampaui komoditas tumbuhan lain yang juga dikawal Barantin. Kopi biji tercatat Rp6,9 triliun, sedangkan pinang biji mencapai Rp2,9 triliun.
Kinerja sawit juga terlihat dari ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya pada awal 2026. Kementerian Pertanian melaporkan nilai ekspornya mencapai US$4,69 miliar pada Januari–Februari 2026.
Angka ini naik 26,40% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar US$3,71 miliar. Dari sisi volume, ekspor CPO dan turunannya meningkat dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton.
Selain itu, catatan sepanjang 2025 menunjukkan sawit sudah lebih dulu menjadi sumber devisa besar. Ekspor produk sawit tahun lalu mencapai 32,34 juta ton dengan nilai US$35,87 miliar.
Diketahui, nilai ekspor produk sawit 2025 naik 29,23% dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam hal ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai, nilai tambah sawit perlu diperkuat melalui pengolahan produk turunan.
“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia,” ujar Amran dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (5/7/2026).
Namun, besarnya nilai ekspor juga membutuhkan kelancaran layanan di pintu keluar perdagangan. Standar karantina dan kepastian dokumen ikut menentukan daya saing produk yang dikirim ke pasar global.
Senada dengan itu, Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan, karantina kini ditempatkan sebagai bagian dari keamanan hayati.
“Keamanan hayati adalah prasyarat mutlak bagi kelancaran arus perdagangan internasional,” tutur Karding dalam pertemuan di Jakarta, Rabu (1/7).
Sebagai informasi, Barantin mengintegrasikan layanan digital nya ke National Logistic Ecosystem (NLE) melalui Indonesia National Single Window (INSW) untuk mengurangi pengulangan dokumen. Dengan posisi sawit sebagai ekspor tumbuhan terbesar dalam layanan Barantin, percepatan layanan menjadi bagian dari upaya menjaga daya saing ekspor nonmigas.














