PravadaNews – Trail run kian mendapat perhatian sebagai salah satu cabang olahraga berbasis alam yang tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
Melihat potensi tersebut, pemerintah terus memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan berbagai ajang trail run di sejumlah wilayah sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem olahraga sekaligus mempromosikan destinasi wisata alam.
Kehadiran event-event tersebut dinilai mampu menarik peserta dan wisatawan dari berbagai daerah, meningkatkan tingkat kunjungan, serta menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku usaha mikro dan ekonomi kreatif yang terlibat di sekitar lokasi penyelenggaraan.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyampaikan dorongan itu saat melantik pengurus Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Jawa Tengah 2025–2029. Dengan begitu, penguatan organisasi diarahkan untuk membangun pembinaan atlet, tata kelola lomba dan dampak ekonomi event.
“Tahun ini bergabung secara resmi jadi cabor di KONI. Dan Insyaallah kita mempersiapkan diri mengikuti PON di NTB 2028,” ujar Bima beberapa waktu lalu.
Adapun masuknya trail run sebagai cabang olahraga di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menuntut pembinaan lebih tertata. Kebutuhan itu mencakup pelatih, standar lomba, keamanan lintasan, dan kesiapan medis.
Selanjutnya, Wamendagri menempatkan trail run tidak hanya sebagai hobi atau kegiatan komunitas. Ajang tersebut juga beririsan dengan pariwisata, promosi wilayah, dan ekonomi sekitar lokasi.
Di sisi lain, Bima menyebut trail run memiliki potensi kontribusi bagi daerah. Bukan hanya hobi, bukan hanya olahraga, tapi irisannya banyak, berpotensi untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan di daerah masing-masing.
Kemudian, penguatan trail run berkaitan dengan kalender kompetisi dan ekosistem olahraga prestasi. Pembinaan diperlukan agar event berjalan terukur, aman, dan memberi manfaat ekonomi.
Di event serupa, Badan Otorita Borobudur (BOB) Kementerian Pariwisata mencatat Dieng Caldera Race 2026 sebagai event sport tourism skala internasional.
BOB menyebut event tersebut bisa mendorong kunjungan wisatawan, okupansi penginapan, dan ekosistem ekonomi lokal.
“Indikator keberhasilan sebuah kegiatan pariwisata tidak hanya dilihat dari aspek dokumentasi atau seremonial, melainkan dari dampak berganda (multiplier effect) yang dirasakan langsung oleh ekosistem ekonomi lokal,” tulis BOB, dikutip Senin (6/7).
Seperti diketahui, trail run merupakan ajang lari lintas alam yang berkaitan dengan olahraga, kunjungan peserta, penginapan, transportasi, dan konsumsi. Keterkaitan tersebut menjadi bagian dari sport tourism dalam event berbasis alam yang ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.















