PravadaNews – Kabupaten Tolikara di Provinsi Papua Pegunungan masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Berdasarkan sejumlah indikator sosial dan ekonomi, daerah ini masih berstatus sangat tertinggal, dengan keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, hingga teknologi informasi.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, dikutip Rabu (8/7/2026), di sektor pendidikan, tingkat partisipasi sekolah menunjukkan masih rendahnya keterlibatan anak-anak dalam pendidikan menengah.
Partisipasi jenjang SMP tercatat sebesar 52,48 persen, sementara partisipasi SMA hanya 33,33 persen. Artinya, masih banyak anak usia sekolah yang belum melanjutkan pendidikan hingga tingkat menengah atas.
Keterbatasan sarana pendidikan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Hanya 10,64 persen desa di Tolikara yang memiliki sekolah dasar (SD), sedangkan desa yang memiliki sekolah menengah pertama (SMP) hanya mencapai 3,85 persen.
Meski demikian, akses menuju sekolah relatif lebih baik dibandingkan ketersediaan fasilitasnya. Sebanyak 61,28 persen desa dilaporkan memiliki akses yang mudah menuju SMP, meskipun sekolah tersebut berada di luar wilayah desa.
Di bidang kesehatan, tantangan yang dihadapi tidak kalah besar. Desa yang memiliki dokter hanya mencapai 1,47 persen, sedangkan desa yang memiliki fasilitas kesehatan baru sebesar 8,07 persen.
Walaupun demikian, sekitar 61,53 persen desa tergolong memiliki akses yang mudah menuju fasilitas kesehatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih harus bergantung pada layanan kesehatan yang berada di luar desanya.
Rendahnya akses layanan kesehatan juga tercermin dari indikator kesehatan masyarakat. Cakupan balita yang memperoleh imunisasi lengkap baru mencapai 12,77 persen, angka yang masih jauh dari target nasional untuk menciptakan kekebalan kelompok terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Selain itu, hanya 39,13 persen perempuan berusia 15–49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir ditolong oleh tenaga kesehatan. Kondisi tersebut mengindikasikan masih terbatasnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Di sektor digital, Tolikara masih menghadapi kesenjangan yang cukup lebar. Persentase penduduk yang menggunakan internet hanya 1,73 persen, menjadikannya salah satu wilayah dengan tingkat penetrasi internet terendah.
Sementara itu, rumah tangga yang menggunakan telepon mencapai 48,61 persen, menunjukkan bahwa kepemilikan alat komunikasi belum sepenuhnya diikuti dengan akses internet yang memadai.
Dari sisi ekonomi, struktur lapangan pekerjaan masih didominasi sektor primer. Penduduk yang bekerja di sektor nonpertanian hanya sebesar 11,18 persen, mencerminkan masih terbatasnya diversifikasi ekonomi.
Hal tersebut juga terlihat dari pola pengeluaran rumah tangga. Porsi pengeluaran untuk kebutuhan nonmakanan hanya mencapai 24,54 persen, yang mengindikasikan sebagian besar pendapatan masyarakat masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Pada sektor infrastruktur dasar, akses listrik tergolong cukup baik dengan 85,36 persen rumah tangga telah menggunakan listrik. Namun, kondisi berbeda terlihat pada akses air bersih. Hanya 7,74 persen rumah tangga yang telah menggunakan sumber air bersih, sehingga mayoritas masyarakat masih bergantung pada sumber air yang belum memenuhi standar layanan dasar.
Kualitas infrastruktur jalan juga masih menjadi pekerjaan rumah. Hanya 9,36 persen desa yang memiliki jalan utama berpermukaan aspal, sehingga mobilitas masyarakat dan distribusi barang masih menghadapi berbagai kendala, terutama di wilayah pedalaman.
Di sisi lain, Tolikara mencatat kondisi yang relatif kondusif dari aspek keamanan dan kebencanaan. Seluruh desa atau 100 persen dilaporkan tidak mengalami bencana maupun konflik sosial selama periode pendataan.
Secara keseluruhan, berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunan di Tolikara masih terkonsentrasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan layanan pendidikan dan kesehatan, penyediaan infrastruktur dasar, serta perluasan akses teknologi informasi.
Perbaikan pada sektor-sektor tersebut dinilai menjadi faktor penting untuk mempercepat pengurangan ketertinggalan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Tolikara.














