Ilustrasi penyakit stroke. (Foto: Dok. Alodokter)

Beranda / Kesehatan / Deteksi 3 Pemicu Stroke Sejak Dini!

Deteksi 3 Pemicu Stroke Sejak Dini!

PravadaNews – Di balik tubuh yang masih terasa sehat, tekanan darah, gula darah, serta kolesterol dapat terus meningkat tanpa disadari hingga menjadi pemicu serangan stroke.

Ketiga kondisi itu berkembang perlahan dan kerap tanpa keluhan, sehingga pemeriksaan sejak dini diperlukan sebelum kerusakan pembuluh darah semakin berat.

Stroke terjadi ketika pasokan darah menuju otak terganggu akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Hal ini membuat sel otak kekurangan oksigen hingga mengalami kerusakan.

Diketahui, hipertensi meningkatkan tekanan pada arteri yang membawa darah menuju otak. Tekanan yang tidak terkendali dapat membuat jalur tersebut menyempit, tersumbat, atau pecah.

“Tekanan darah yang terlalu tinggi bisa menyebabkan pembuluh darah arteri yang membawa darah dan oksigen pecah atau tersumbat, sehingga menyebabkan stroke,” dilansir dalam laman Alodokter, dikutip Minggu (12/7/2026).

Pada penderita diabetes, kadar gula yang tidak terkendali dapat merusak dinding pembuluh darah. Kerusakan tersebut memudahkan terbentuknya gumpalan yang menghambat aliran darah menuju otak.

Kolesterol tinggi juga dapat membentuk plak pada dinding arteri hingga jalur aliran darah semakin menyempit. Plak yang menumpuk juga dapat memicu penyumbatan dan meningkatkan risiko stroke.

Adapun tekanan darah dapat diketahui melalui pemeriksaan tensi. Sementara itu, kadar gula dan kolesterol diperiksa melalui tes darah sebelum ketiganya menimbulkan komplikasi.

Faktor risiko yang berkembang tanpa keluhan menjadi sasaran Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Program tersebut diarahkan untuk mendeteksi hipertensi, diabetes, hingga kolesterol tinggi sebelum berkembang menjadi stroke.

Program CKG menargetkan pemeriksaan terhadap 130 juta penduduk sepanjang tahun ini. Target itu ditetapkan setelah pemerintah mencatat 70 juta pemeriksaan pada tahun pertama pelaksanaannya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan skrining menjangkau 280 juta penduduk dalam lima tahun mendatang. Jumlah tersebut setara sekitar 80% populasi Indonesia.

“Prevalensi hipertensi di Indonesia hampir 20 persen dan diabetes lebih dari 10 persen,” ujar Budi dalam Indonesia Collaborative Neuro-Networks Summit (ICONNS) 2026 di Jakarta, Jumat (10/7) lalu.

Pemerintah menerapkan pendekatan 80-80-80 agar hasil skrining tidak berhenti pada pendataan. Skema itu menargetkan 80% penduduk teridentifikasi, memperoleh penanganan, lalu berhasil mengendalikan kondisi kesehatannya.

“Daripada menunggu sampai stroke terjadi, kita harus mengendalikan faktor risiko ini sedini mungkin,” tegas Menkes itu.

Sebagai informasi, stroke juga menjadi beban pembiayaan terbesar ketiga dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan klaim melampaui Rp5 triliun per tahun. Hasil CKG yang menunjukkan faktor risiko tinggi perlu ditindaklanjuti melalui konsultasi dan penanganan di fasilitas kesehatan

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *