PravadaNews – Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dengan mengeluarkan awan panas guguran pada Senin (13/7/2026) pagi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat fenomena tersebut terjadi sekitar pukul 05.09 WIB dengan jarak luncur mencapai 2 kilometer.
Awan panas bergerak ke arah barat daya dan selatan, tepatnya menuju hulu Kali Krasak dan hulu Kali Boyong, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sehingga masyarakat yang beraktivitas di kawasan sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya aktivitas vulkanik.
“Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi pada Senin, pukul 05.09 WIB,” tulis BPPTKG dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan hasil pengamatan, awan panas memiliki estimasi jarak luncur sekitar 2.000 meter dengan amplitudo maksimum 19,52 milimeter dan durasi 109,99 detik.
Meski terjadi awan panas guguran, status aktivitas Gunung Merapi masih berada di Level III (Siaga). BPPTKG mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan yang berpotensi terdampak bahaya erupsi.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas diperkirakan dapat mencapai Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
BPPTKG juga mengingatkan, apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Masyarakat diminta tetap mengikuti rekomendasi resmi dari BPPTKG dan tidak beraktivitas di zona rawan bahaya.















