Jajaran pemain film Operasi Pesta Copet. (Foto: Dok. Poplicist)

Beranda / Infotaiment / Film Operasi Pesta Copet Buka Realita Pengamanan Konser

Film Operasi Pesta Copet Buka Realita Pengamanan Konser

PravadaNews – Film Operasi Pesta Copet membuka realita pencopetan yang bersembunyi di balik padatnya konser musik. Kerumunan membuat pelaku lebih mudah bergerak tanpa disadari penonton.

Film arahan Edy Khemod itu mengisahkan Ijal, Adut, Tia, dan Melodi, empat sahabat yang merencanakan pencurian dalam festival musik.

Mereka tinggal di kawasan pinggiran kota dan kesulitan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan layak. Tekanan kebutuhan kemudian mendorong keempatnya mengambil jalan berisiko.

Konser dipilih sebagai lokasi beraksi karena sentuhan dan dorongan di tengah penonton dapat menyamarkan gerakan pencopet. Korban pun kerap baru menyadari kehilangan setelah pelaku berpindah.

Selain memperlihatkan cara pelaku memanfaatkan kerumunan, film tersebut menggali kehidupan mereka sebelum terlibat pencopetan. Cerita ini menempatkan tekanan ekonomi sebagai latar tanpa membenarkan tindakannya.

Aktor Iqbaal Ramadhan yang memerankan Ijal mengatakan, para tokoh itu bukan pencopet profesional. Mereka digambarkan sebagai anak muda yang semakin kehilangan pilihan.

“Karakter-karakter di film Operasi Pesta Copet itu sebenarnya bukan orang jahat. Mereka hanya anak-anak muda yang terpaksa nekat karena tuntutan ekonomi,” ujar Iqbaal dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama untuk keluar dari tekanan hidup. Namun, pencopetan tetap membawa kerugian bagi korban dan konsekuensi hukum bagi pelaku.

Pihak produksi juga menegaskan film ini tidak dibuat untuk mengagungkan tindakan kriminal. Operasi Pesta Copet justru menggunakan festival musik untuk memperlihatkan celah keamanan dalam kerumunan.

Gambaran tersebut menyerupai kasus pencopetan saat konser Slank di Lapangan Rampal, Malang, pada April 2026 lalu. Kepolisian menangkap empat dari lima pelaku yang mengincar telepon seluler penonton.

Sebelumnya, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Malang Kota, Ajun Komisaris Polisi Rahmad Aji Prabowo menjelaskan, kelompok itu bekerja dengan pembagian tugas.

Pola ini memperlihatkan pencopetan di konser dapat dilakukan secara terorganisasi, bukan sekadar memanfaatkan kelengahan sesaat. Realita itu kemudian menjadi persoalan utama yang dibawa Operasi Pesta Copet melalui kisah empat sahabatnya.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *