Ilustrasi petani garam. (Foto: Dok. Kementerian Kelautan Perikanan)

Beranda / Ekonomi / Potensi Garam Bergantung Musim dan Teknologi

Potensi Garam Bergantung Musim dan Teknologi

PravadaNews – Besarnya potensi garam di sepuluh provinsi belum membuat produksi nasional stabil dari tahun ke tahun. Panen masih bergantung pada panjang kemarau, sementara teknologi baru menjangkau sebagian sentra dari Aceh hingga Sulawesi.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat produksi garam rakyat dari sepuluh provinsi mencapai sekitar 1,70 juta ton pada 2024. Setelah hasil perusahaan produsen dihitung, total produksi nasional mencapai 2,04 juta ton.

Jumlah tersebut melampaui target nasional sebanyak 2 juta ton. Namun, produksinya turun 18,4% dibandingkan capaian 2023 yang mencapai 2,5 juta ton.

Laporan KKP menyebut penurunan produksi berlangsung ketika musim kemarau 2024 lebih pendek. Kondisi itu langsung memengaruhi tambak rakyat yang masih mengandalkan penguapan terbuka.

Waktu tanpa hujan yang terbatas membuat air laut lebih lambat mencapai tingkat kepekatan untuk membentuk kristal. Ketika hujan kembali turun, proses penguapan harus dimulai atau diperpanjang kembali.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, KKP menerapkan teknologi Tunnel-Sea Water Reverse Osmosis (Tunnel-SWRO) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Februari 2026 lalu.

“Dengan kualitas bahan baku seperti ini, proses kristalisasi garam dapat berlangsung lebih singkat, sekitar tiga hingga lima hari dalam kondisi normal. Produksi menjadi lebih efisien, hasilnya pun lebih konsisten dan bermutu,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, dikutip Jumat (24/7/2026).

Sebagai informasi, sistem SWRO menyaring dan memekatkan air laut sebelum memasuki tahap kristalisasi. Adapun rumah tunnel melindungi pembentukan garam ketika hujan turun selama masa produksi.

Namun, penggunaan SWRO untuk produksi garam di Indramayu masih menjadi penerapan pertama di Indonesia. Sebagian petambak di daerah lain masih bekerja di tambak terbuka dengan teknologi sederhana.

Kebutuhan teknologi ini semakin penting karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau 2026 lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, Rabu (10/6).

Pemutakhiran BMKG pada 19 Juni 2026 lalu memperkirakan 482 zona musim mengalami curah hujan di bawah normal. Kemarau juga diprediksi lebih panjang di 437 zona dan mencapai puncak pada Agustus di 369 zona.

Musim yang lebih kering dapat memperpanjang waktu penguapan dan membuka peluang peningkatan produksi. Meski demikian, hasil panen tetap bergantung pada kemampuan petambak mengelola air dan menjaga proses kristalisasi.

Karena itu, besarnya potensi sepuluh provinsi belum cukup ditopang oleh cuaca kering. Pemerataan teknologi menentukan kemampuan sentra garam menjaga produksi tetap stabil ketika pola musim berubah.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *