Ilustrasi petani kelapa sawit. (Foto Dok. Badan Pengelola Dana Perkebunan)

Beranda / Ekonomi / Ekspor CPO Semester I Naik 7,32%

Ekspor CPO Semester I Naik 7,32%

PravadaNews – Ekspor minyak sawit Indonesia tumbuh 7,32% sepanjang semester I 2026, di tengah perubahan pola pasok India sebagai salah satu pasar utama sawit nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan turunannya mencapai US$12,27 miliar pada Januari–Juni 2026, naik dari US$11,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 

Volume ekspor turut meningkat 2,50% dari 11 juta ton menjadi 11,28 juta ton. CPO dan turunannya menyumbang 9,12% terhadap nilai ekspor nonmigas nasional. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, capaian tersebut menunjukkan ekspor CPO masih tumbuh selama enam bulan pertama tahun ini.

“Ini artinya nilai ekspor CPO pada semester I masih mengalami kenaikan ya, tadi 7,3 persen,” ujar Ateng dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui kanal YouTube BPS, Senin (3/8/2026).

India masih menjadi salah satu pasar penting Indonesia. Nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai US$9,25 miliar selama Januari–Juni 2026 atau sekitar 6,87% dari total ekspor nonmigas. 

Dari jumlah itu, kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati dalam Harmonized System (HS) 15 mencapai US$1,60 miliar, tumbuh 4,60%. Kelompok tersebut mencakup produk yang lebih luas dari CPO. 

Namun, Kepala Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) Hary Noegroho menjelaskan, sejak 2011 Indonesia umumnya memasok lebih dari separuh impor minyak sawit India, kecuali pada 2021 dan 2022. 

“India mulai memperluas negara asal pasokan, meningkatkan fleksibilitas antarjenis minyak nabati, dan memperkuat produksi domestiknya,” ungkap Hary dalam opini IPOSS, dikutip Jumat (7/8). 

Perubahan ini terlihat dari pembelian minyak sawit asal Kolombia dan Guatemala. Meski volumenya masih kecil, transaksi itu menunjukkan pemasok di luar Asia Tenggara mulai mendapat ruang ketika harga mampu menutup biaya logistik. 

India juga semakin fleksibel memilih minyak nabati. Pangsa minyak sawit dalam impornya sempat turun dari 56% menjadi 43% ketika harganya lebih mahal dibandingkan minyak kedelai dan bunga matahari. 

Selain memperluas pemasok, India meningkatkan produksi melalui National Mission on Edible Oils–Oil Palm (NMEO-OP). Hingga November 2025, luas perkebunan sawit negara tersebut mencapai sekitar 620 ribu hektare. 

Pada saat yang sama, penggunaan CPO Indonesia untuk biodiesel dan hilirisasi terus meningkat. Menurutnya, pertumbuhan konsumsi domestik dapat mengetatkan pasokan ekspor dan mengurangi kepastian volume bagi pembeli. 

Meski demikian, Indonesia masih memiliki keunggulan produktivitas, skala industri, efisiensi biaya, serta jaringan logistik. 

“Mempertahankan pasar akan semakin ditentukan oleh harga, produktivitas, reliabilitas pasokan, dan kemampuan membangun hubungan perdagangan jangka panjang,” jelas Hary. 

Sementara itu, Harga Referensi (HR) CPO periode 1–31 Agustus 2026 ditetapkan sebesar US$996,52 per metrik ton (MT), turun 0,44% dari US$1.000,90 per MT pada Juli.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *