Ilustrasi beras. (Foto: dok PravadaNews)

Beranda / Nasional / Kenali Beras Fortifikasi Asli

Kenali Beras Fortifikasi Asli

PravadaNews – Sepiring nasi hangat telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia.

Namun, di balik perannya sebagai sumber energi utama, beras putih yang umum dikonsumsi ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan tubuh akan berbagai zat gizi mikro penting, seperti zat besi, zinc, vitamin A, dan asam folat.

Di tengah hadirnya beras fortifikasi sebagai alternatif yang lebih bernutrisi, masyarakat kini dihadapkan pada tantangan baru, yakni bagaimana membedakan beras fortifikasi asli dengan produk yang hanya mencantumkan klaim serupa di pasaran.

Untuk mengatasi defisiensi gizi pada beras, para ahli pangan telah mengembangkan inovasi beras fortifikasi dan beras biofortikasi.

Beras fortifikasi adalah beras biasa yang ditambahkan zat gizi mikro secara sengaja melalui proses teknologi pangan setelah padi digiling menjadi beras.

Sementara itu, beras biofortifikasi diperkaya gizinya sejak tanaman masih berada di sawah, artinya peningkatan kandungan vitamin dan mineral dilakukan melalui pemuliaan tanaman atau rekayasa genetik. Kedua jenis beras ini memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan nilai gizi.

Mengingat perannya dalam pemenuhan gizi, kemampuan untuk membedakan beras fortifikasi yang sesuai standar dari produk yang tidak asli atau bahkan oplosan menjadi krusial.

Dikutip dari laman resmi Bapanas, Jumat (7/8/2026), beras fortifikasi adalah beras biasa yang telah diperkaya dengan tambahan berbagai vitamin dan mineral esensial.

Nutrisi yang biasanya ditambahkan ke dalam beras ini meliputi zat besi, asam folat, zinc, vitamin A, vitamin B1, B3, B6, dan B12. Proses fortifikasi ini umumnya dilakukan dengan teknologi ekstrusi panas, di mana debu beras dicampur dengan vitamin dan mineral, lalu dicetak kembali menyerupai butiran beras asli yang disebut kernel. Kernel nutrisi ini kemudian dicampurkan dengan beras biasa dalam rasio tertentu, biasanya 1:100.

Secara fisik, warna, bau, dan rasa beras fortifikasi saat dimasak sama sekali tidak berbeda dengan beras putih biasa, menurut Halodoc. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, beras fortifikasi mungkin memiliki beberapa butiran kernel yang warnanya sedikit lebih putih, opak, atau agak kekuningan dibandingkan butiran beras lainnya.

Kualitas beras fortifikasi diatur dalam dua Standar Nasional Indonesia (SNI), yaitu SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi. Dalam setiap 100 gram produk, beras fortifikasi wajib mengandung vitamin B1 minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25-0,38 miligram, vitamin B12 1,0-1,5 mikrogram, zat besi 3,50-5,25 miligram, dan seng 3,0-4,5 miligram. Rasio pencampuran kernel fortifikan terhadap beras sosoh minimal 1% juga menjadi persyaratan.

Sementara itu, Bapanas menegaskan seluruh produk beras fortifikasi yang beredar di masyarakat wajib memenuhi standar keamanan, mutu, gizi, dan pelabelan. Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi hak konsumen memperoleh pangan yang aman dan sesuai informasi pada kemasan.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan pemenuhan standar tersebut menjadi kewajiban produsen. Pihaknya juga terus memperkuat pengawasan melalui pemeriksaan izin edar, kesesuaian label, dan pengujian laboratorium.

“Pangan merupakan kebutuhan dasar setiap warga negara, karena itu pangan yang tersedia tidak hanya harus cukup dan terjangkau. Tetapi juga harus aman, bermutu, bergizi, dan memenuhi kaidah keamanan pangan,” kata Andriko.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *