Penjual atribut merah putih, Fadly, saat menawarkan dagangnya kepada masyarakat di kawasan Monumen Nasional, Jakarta. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Nasional / Kipas Merah Putih Rp15 Ribu Tak Laku Secepat Dulu

Kipas Merah Putih Rp15 Ribu Tak Laku Secepat Dulu

PravadaNews – Kipas merah putih seharga Rp15.000 masih tersisa hingga pagi di tengah ramainya masyarakat yang merayakan Hari Kemerdekaan di kawasan Monumen Nasional (Monas).

Pada perayaan 17 Agustus tahun lalu, barang serupa biasanya sudah habis sejak pagi. Tahun ini, jumlah yang terjual pada waktu yang sama baru sekitar 20 buah.

Perbedaan itu terasa bagi pedagang yang kembali mengandalkan keramaian pesta rakyat untuk meningkatkan penjualan atribut kemerdekaan.

Kondisi tersebut dirasakan pedagang atribut merah putih di sekitar Monas, Fadly, yang mulai menawarkan dagangannya sejak pagi, Senin (17/8/2026).

Atribut yang dijual memiliki harga mulai Rp2.000 hingga Rp20.000, sedangkan kipas merah putih dibanderol Rp15.000 per buah. Dari sekitar 20 kipas yang terjual, omzetnya sedikitnya mencapai Rp300.000.

“Kalau bagi saya, tahun lalu lebih ramai. Pagi-pagi biasanya kipas sudah langsung habis, kalau pagi ini baru sekitar 20 kipas yang terjual,” jelas Fadly saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta.

Jumlah ini belum memasukkan pemasukan dari atribut lainnya. Meski pembeli tetap datang, pedagang itu mengaku hasil penjualan pagi tersebut baru cukup untuk mengembalikan modal.

Kecepatan transaksinya juga belum seperti yang dirasakan pada periode serupa tahun lalu. Karena itu, Fadly masih mengandalkan arus pengunjung berikutnya untuk menambah penjualan hingga sore.

“Iya, kalau dibandingkan pagi hari tahun lalu memang lebih ramai tahun lalu,” tutur Penjual ini.

Situasi di lapangan tersebut terjadi ketika keyakinan konsumen nasional masih berada pada zona optimistis, tapi melemah dibandingkan bulan sebelumnya.

Diketahui, survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 sebesar 116,8, turun dari 117,8 pada Juni.

Namun, penjualan tidak bergerak sama untuk setiap jenis barang. Di tengah atribut yang lebih lambat terjual, minuman tetap dicari pengunjung ketika cuaca mulai panas.

Pedagang minuman di sekitar Monas, Maya, bercerita kalau dirinya menjual sekitar 45 botol air mineral seharga Rp5.000 yang telah terjual dengan omzet sekitar Rp225.000.

Dengan modal sekitar Rp3.000 per botol, selisih kotor dari penjualan air mineral mencapai sekitar Rp90.000. Nilai tersebut belum dikurangi biaya es, transportasi, kantong, hingga kebutuhan berdagang lainnya.

Meski penjualan lebih ramai dibandingkan hari biasa, Maya juga merasakan pembeli tahun ini tidak datang secepat pada perayaan sebelumnya.

“Kalau menurut saya tahun lalu sedikit lebih ramai. Tahun ini sih tetap ramai, cuma pembelinya datangnya bertahap,” ungkap Maya saat berbincang dengan PravadaNews.

Pengalaman kedua pedagang itu memperlihatkan ritme penjualan yang berbeda di tengah keramaian yang sama.

Menjelang siang, masyarakat masih terus berdatangan ke kawasan Monas. Berdasarkan pantauan, sejumlah pedagang tetap menawarkan dagangannya selama rangkaian perayaan berlangsung.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *