PravadaNews — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra mulai mengganggu aktivitas penerbangan. Kabut asap yang pekat menurunkan jarak pandang hingga membuat sejumlah penerbangan harus dibatalkan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan gangguan paling parah terjadi di Kalimantan Barat. Kondisi jarak pandang di wilayah tersebut dinilai tidak memungkinkan pesawat melakukan navigasi secara aman.
“Di Kalimantan Barat, ada pembatalan penerbangan karena asap di sana sudah cukup mengganggu jarak pandang,” ujar Dudy di Jakarta, Kamis (20/8/2026), setelah rapat bersama Komisi V DPR RI.
Gangguan penerbangan diperkirakan masih berlangsung pada Jumat (21/8/2026). Dudy menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan kemungkinan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah kawasan.
Menurut Dudy, kondisi kabut asap di beberapa titik Kalimantan Barat sudah cukup pekat. Situasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusan operasional penerbangan.
Dudy belum merinci seluruh bandara yang terdampak karhutla di Kalimantan dan Sumatra. Ia juga belum menyampaikan jumlah penerbangan yang telah dibatalkan akibat penurunan jarak pandang.
Meski begitu, Bandara Supadio di Kubu Raya disebut sebagai salah satu lokasi yang terdampak cukup parah. Dudy mengatakan pihaknya masih akan memperbarui informasi mengenai titik-titik lain yang mengalami gangguan.
Keputusan membatalkan penerbangan diambil dengan mempertimbangkan faktor keselamatan. Kondisi jarak pandang yang tidak memadai membuat penerbangan tidak dapat dipaksakan untuk tetap berjalan.
Gangguan tersebut menunjukkan dampak karhutla mulai menjalar ke sektor transportasi udara. Asap yang sebelumnya mengganggu aktivitas masyarakat kini juga menjadi faktor yang memengaruhi kelancaran penerbangan.
Kementerian Perhubungan meminta maskapai meningkatkan kewaspadaan selama kondisi tersebut berlangsung. Maskapai juga diminta memantau perkembangan situasi di wilayah operasional masing-masing.
Dudy secara khusus meminta maskapai mengikuti informasi resmi mengenai kondisi cuaca. “Selalu memonitor informasi dari BMKG terkait dengan cuaca,” kata Dudy.
Pemantauan kondisi udara dan cuaca menjadi penting karena situasi kabut asap dapat berubah. Pemerintah juga terus mengawasi perkembangan dampak karhutla terhadap operasional penerbangan di berbagai wilayah.
Dengan kondisi tersebut, sejumlah penerbangan masih berpotensi mengalami gangguan selama jarak pandang belum memungkinkan. Pemerintah menempatkan keselamatan penerbangan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan keberlanjutan operasional.















