PravadaNews – Pemerintah Provinsi Banten memperpanjang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di seluruh satuan pendidikan hingga Jumat, 11 September 2026. Namun, belum dipastikan apakah para siswa akan langsung kembali mengikuti pembelajaran tatap muka setelah kebijakan tersebut berakhir.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaluddin mengatakan, keputusan mengenai pelaksanaan pembelajaran setelah 11 September 2026 akan ditentukan dengan mempertimbangkan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Selain aktivitas vulkanik, pemerintah juga akan mempertimbangkan kondisi kualitas udara dan sebaran abu vulkanik untuk kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
“Ketentuan pelaksanaan pembelajaran setelah tanggal 11 September 2026 akan disampaikan lebih lanjut dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau, kualitas udara, sebaran abu vulkanik, serta hasil koordinasi dengan instansi terkait,” kata Jamaluddin dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten memutuskan memperpanjang PJJ selama dua hari pada Kamis dan Jumat, 10–11 September 2026. Kebijakan tersebut diambil berdasarkan arahan Gubernur Banten, mengingat masih adanya aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Seluruh Satuan Pendidikan Negeri dan Swasta di Provinsi Banten jenjang SMA/SMK/MA, SMP/MTs, SD/MI, TK/PAUD dan SKh agar pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diperpanjang selama 2 (dua) hari, yaitu pada Kamis dan Jumat, tanggal 10 dan 11 September 2026,” kata Japamulddin.
Adapun selama PJJ berlangsung, pihak sekolah diminta memastikan kegiatan pembelajaran tetap berjalan secara aktif, efektif, dan terarah dengan memanfaatkan ekosistem digital. Tidak hanya itu, pihak sekolah juga wajib memantau proses pembelajaran serta kehadiran guru dan peserta didik secara daring.
Selain itu, kegiatan di luar ruangan selama PJJ berlangsung diminta untuk dikurangi akibat sebaran abu vulkanik masih terjadi. Apabila terdapat kebutuhan mendesak untuk beraktivitas di luar ruangan, warga sekolah diminta menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat atau abu vulkanik serta menghindari paparan langsung.
Orang tua juga diimbau membatasi aktivitas anak di luar rumah selama sebaran abu vulkanik masih terjadi.















