PravadaNews – Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah ketika tekanan global meningkat. Hal itu dinilai karena kondisi pertumbuhan ekonomi dan inflasi dalam negeri masih terjaga.
Tekanan eksternal tersebut terlihat pada perdagangan Kamis (24/9/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,55% menjadi Rp17.916 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI pada hari yang sama tercatat Rp17.898 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI, Aida S. Budiman, menjelaskan gejolak geopolitik memengaruhi perekonomian melalui tiga jalur, mulai dari perubahan harga komoditas seperti minyak, pergerakan pasar keuangan global, hingga perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.
Meski tekanan global meningkat, Aida menilai kondisi domestik masih memberikan ruang bagi BI untuk menentukan respons secara terukur karena ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026. Sementara inflasi Agustus berada di 3,19% dengan inflasi inti sebesar 2,92%.
“Respons kebijakan kita itu harus melihat kepada gap daripada inflasi dan gap kepada output. Tadi sudah saya sampaikan, PDB-nya oke, inflasinya oke. Sehingga respons yang kami lakukan itu adalah meng-address stabilitas nilai tukar rupiah,” ungkap Aida dalam konferensi pers hasil RDG BI yang dipantau secara daring, Rabu (23/9).
Fokus terhadap rupiah diperlukan karena perubahan nilai tukar dapat diteruskan ke harga barang dan memengaruhi inflasi, meskipun Aida mengatakan inflasi saat ini masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% plus minus 1%.
“Bukan untuk bagaimana menurunkan inflasi yang berlebihan atau overheating dari perekonomian. Bukan itu. Tapi exchange rate tadi, seperti saya sampaikan, atau nilai tukar tadi punya dampak kepada inflasi,” lanjut Aida.
Karena itu, BI juga memperhitungkan selisih imbal hasil domestik dan luar negeri serta memperkuat instrumen seperti transaksi swap, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Local Currency Transaction (LCT) untuk menarik aliran modal dan menambah pasokan valuta asing. Diketahui, ruang stabilisasi turut ditopang cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 atau setara 5,4 bulan impor.
Di tengah upaya menjaga stabilitas dari tekanan global, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Ramli menyoroti sisi lain yang perlu dijaga di dalam negeri, yakni kemampuan kelas menengah untuk terus berbelanja karena konsumsi kelompok tersebut ikut menggerakkan kegiatan ekonomi.
Menurutnya, tekanan dari biaya hidup dan berbagai beban lain dapat mempersempit ruang konsumsi kelas menengah.
Kondisi ini membuat Dipo mengingatkan tekanan pada kelompok menengah juga dapat menjalar kepada kelompok berpendapatan lebih rendah yang bergantung pada perputaran kegiatan ekonomi.
“Saya khawatir bila ekonomi begini terus, tekanan kepada kelas menengah tidak berhenti. Dan tentunya kalau tekanan kelas menengah tidak berhenti, tekanan itu juga akan langsung masuk ke kelas bawahnya,” kata Dipo dalam keterangan yang diterima, Rabu (23/9).















