Gedung PT Pertamina. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / RI Kehilangan 25% Sumber Impor BBM

RI Kehilangan 25% Sumber Impor BBM

PravadaNews – Konflik di Timur Tengah menyebabkan Indonesia kehilangan 25% sumber impor bahan bakar minyak (BBM), sehingga pemerintah harus mencari pemasok alternatif untuk menjaga kebutuhan dalam negeri.

Hal ini diungkap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, yang menuturkan bahwa konflik tersebut mengganggu sumber pasokan BBM Indonesia.

“Lalu yang kedua, semenjak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor, Bapak-Ibu sekalian,” ujar Laode, Minggu (10/11/2026). 

Sebelumnya, Pertamina menggunakan mekanisme lelang untuk memperoleh pasokan BBM dari luar negeri, tapi diketahui kini jumlah pesertanya relatif tidak ada.

Karena itu, pemerintah mulai mencari negara-negara yang memiliki kelebihan stok BBM untuk menjaga pasokan nasional.

Namun, pengadaan dari pemasok alternatif ini berpotensi membuat harga pembelian lebih tinggi dibandingkan melalui mekanisme biasa.

Meski menghadapi kendala pengadaan, Laode memastikan ketahanan stok BBM nasional tetap berada pada kisaran 18–20 hari.

Dengan kondisi tersebut, Laode menjelaskan bahwa antrean BBM tidak selalu disebabkan kekurangan stok, tetapi juga dapat terjadi akibat gangguan distribusi.

“Jadi, kalaupun kemudian terjadi antrean, antrean lebih disebabkan bukan karena ketahanan stok, tapi karena salah satunya misalnya adalah kondisi El Nino,” tegas Dirjen Laode.

Laode mencontohkan, sungai yang mengering akibat El Niño sehingga pengiriman BBM harus dialihkan menggunakan truk. Namun, kapasitas truk lebih kecil dibandingkan kapal sungai sehingga distribusi menjadi terbatas.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa (6/10) memperkirakan sekitar 79,65% wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah pada sepuluh hari pertama Oktober akibat kondisi atmosfer yang masih dipengaruhi El Niño sangat kuat.

Adapun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya juga mengatakan kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak siap jual atau lifting hanya sekitar 600–610 ribu barel per hari.

“Kebutuhan BBM kita kurang lebih 1,6 juta barel per hari, sementara lifting kita sekitar 600-610 ribu barel per hari,” ucap Bahlil, Senin (14/9).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai US$29,30 miliar, sedangkan defisit perdagangan migas tercatat sebesar US$21,29 miliar.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *