PravadaNews — Pengamat ekonomi dan politik ekonomi Indonesia, Ichsanuddin Noorsy, menilai kejatuhan pasar saham domestik mencerminkan persoalan struktural dalam ketahanan ekonomi nasional.
Dalam keterangan resminya, Noorsy membongkar sembilan faktor utama yang menjadi pemicu utama gejolak hebat di pasar modal dan pasar uang tanah air.
Pertama, fenomena antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU menjadi indikator telanjang bahwa ketahanan energi nasional telah merosot drastis menjadi sekitar 17 hari.
”Kedua, krisis pasokan energi tersebut secara langsung menghancurkan tingkat kepercayaan publik dan pelaku pasar terhadap kapabilitas pemerintah dalam mengelola stabilitas ekonomi makro,” kata Noorsy dalam keterangannya, dikutip Sabtu (17/10/2026).
Ketiga, akumulasi ketidakpastian tersebut mendorong kejatuhan nilai tukar Rupiah hingga menembus level psikologis di atas Rp18.000 per Dolar AS.
Keempat, terdepresiasinya rupiah secara signifikan berpotensi kuat memicu lonjakan inflasi (imported inflation), yang pada gilirannya akan memaksa kenaikan suku bunga acuan dan makin mencekik sektor riil.
Kelima, pasar modal Indonesia kini dibayangi ancaman penurunan status menjadi stand-alone market.
Noorsy menilai berbagai kesepakatan geopolitik dan komitmen ekonomi pemerintah, termasuk terkait minyak Amerika Serikat, pembelian pesawat Boeing, impor pangan, serta nota kesepahaman dengan Freeport, belum cukup meredakan sentimen negatif pasar.
”Keenam, raksasa pengelola investasi global seperti Vanguard dan BlackRock tetap melayangkan vonis keras terkait transparansi kepemilikan saham publik atau free float serta menuntut kebijakan moneter Indonesia tunduk pada kriteria dan kepentingan mereka,” ujar Noorsy.
Ketujuh, fenomena ini memperlihatkan dikte pasar modal dan pasar uang internasional, di mana Indonesia dipaksa secara sistematis untuk tunduk pada aturan, regulasi, dan standardisasi korporasi global.
Kedelapan, kerentanan sektor ekonomi dan keuangan Indonesia sudah berada pada tahap struktural. Siapa pun Presiden, Menteri Keuangan, maupun Gubernur Bank Indonesia yang menjabat, Indonesia akan terus mengalami kerentanan ekonomi selama akar permasalahannya dibiarkan.
Kesembilan, penyebab paling mendasar dari karut-marut ini adalah sistem ekonomi Indonesia beserta para pengambil kebijakannya yang terlalu mudah untuk diinvasi, diintervensi, diinterferensi, diinfiltrasi, dan diintimidasi oleh kepentingan luar.
Pandangan Noorsy tersebut menempatkan gejolak pasar keuangan sebagai persoalan yang berkaitan dengan ketahanan energi, stabilitas nilai tukar, kepercayaan investor, serta tata kelola pasar modal.















