Ilustrasi label gizi. (Foto: Dok. Shutterstock)

Beranda / Kesehatan / BPOM: Klaim Sehat Pangan Harus Terbukti

BPOM: Klaim Sehat Pangan Harus Terbukti

PravadaNews – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan kewajiban pembuktian ilmiah atas klaim kesehatan pangan olahan.

Sebelumnya, BPOM mengingatkan masyarakat tulisan seperti “tinggi protein” atau “rendah lemak” pada kemasan hanya menjelaskan kandungan tertentu, bukan keseluruhan nilai gizi produk.

Perwakilan Direktorat Standardisasi Pangan Olahan BPOM, Ati Widya Perana, menjelaskan pangan fungsional dengan klaim gizi dan kesehatan harus memiliki bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Melalui hal ini, kami melakukan pendekatan bahwa pangan fungsional yang dimaksud adalah pangan dengan klaim gizi dan kesehatan, di mana pembuktian klaimnya harus disertai dengan bukti ilmiah,” ungkap Ati dalam Simposium Pangan Nasional 2026, dikutip Selasa (20/10/2026). 

Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan yang mengatur persyaratan pencantuman klaim pada produk.

Menurut Ati, pangan dengan manfaat fungsional tetap harus mengikuti aturan pangan olahan sesuai jenis produk dan tujuan penggunaannya.

Karenanya, produsen perlu menentukan kategori pangan, komposisi bahan, sasaran konsumen, dan manfaat kesehatan yang akan dicantumkan sejak tahap pengembangan produk.

Selain itu, pangan berklaim harus memenuhi persyaratan mengenai kandungan lemak total, lemak jenuh, kolesterol, dan natrium sesuai ketentuan pencantuman klaim.

Sedangkan pelaku usaha yang ingin mencantumkan klaim manfaat kesehatan baru harus mengajukan pengkajian kepada BPOM dengan menyertakan hasil penelitian yang relevan.

“Data dukung yang perlu disampaikan adalah penelitian, dengan mengutamakan studi pada manusia menggunakan desain randomized controlled trial (RCT),” jelas Ati.

Di sisi pengembangan produk, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus melakukan penelitian untuk mengolah bahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah melalui pemanfaatan teknologi pangan.

Dalam publikasi pada Minggu (20/9), peneliti BRIN Sofa Farida mengembangkan produk jeli berbahan temulawak dan daun kelor agar kedua bahan tersebut lebih mudah dikonsumsi, terutama oleh anak-anak.

Produk bernama Jelicious Kids ini masih berupa prototipe yang dikembangkan menuju produksi lebih besar, sehingga hasil penelitian perlu melalui sejumlah tahapan sebelum dapat dikomersialkan.

“Target akhirnya dari perjalanan riset ini adalah mengubah kekayaan lokal Indonesia menjadi formulasi inovatif, prototipe tervalidasi, skala industri, dan akhirnya produk komersial,” ujar Sofa.

Selain jeli temulawak dan kelor, BRIN mengembangkan pasta sagu yang diperkaya zat besi serta bubuk berbahan kefir dan kacang hijau, dengan pengujian dan penyesuaian kebutuhan industri masih diperlukan sebelum produk hasil riset memasuki tahap komersial.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *