PravadaNews – Setelah penantian panjang sejak Asian Para Games 2018, cabang para tenis meja Indonesia akhirnya kembali meraih medali emas di panggung Asia.
Keberhasilan Barce Layaba dan Leli Marlina bukan sekadar pencapaian prestasi, tetapi juga membawa makna emosional bagi dunia para tenis meja Tanah Air.
Medali emas tersebut menjadi yang pertama sejak kepergian legenda para tenis meja Indonesia, David Jacobs, pada 2023 silam.
Leli pun mempersembahkan kemenangan itu secara khusus untuk mendiang David sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengharumkan nama Indonesia serta mengembangkan para tenis meja nasional.
“Yang pertama, medali emas ini untuk David Jacobs Almarhum. Akhirnya kita bisa dapat medali emas setelah ditinggalkan beliau,” kata Leli dikutip dari laman Komite Paralimpiade Indonesia, Jumat (23/10/2026).
Selain untuk David Jacobs, medali emas tersebut dipersembahkan kepada Indonesia dan seluruh pihak yang mendukung perjuangan mereka.
Selain leli, Barce juga menyampaikan terima kasih kepada pelatih, keluarga, serta orang-orang yang terus memberikan dukungan selama persiapan hingga pertandingan.
“Dan tentunya kita persembahkan untuk Indonesia, persembahkan untuk orang-orang yang selalu support kita. Juga pelatih yang selalu sabar untuk membimbing kita, membawa kita sampai di titik ini,” ujar Barce.
Pelatih para tenis meja Indonesia, Bayu Widhie Hapsara Purba menilai, medali emas tersebut sangat berarti bagi timnya.
Menurut Bayu, Indonesia akhirnya kembali meraih emas Asian Para Games setelah sebelumnya hanya mampu mengumpulkan medali perunggu.
“Raihan emas ini sangat berarti sekali bagi tim para tenis meja ini, karena sepeninggal kak David Jacobs, legend kita. Baru kali ini kita bisa mendapatkan emas di Asian Para Games,” ujar Bayu.
Keberhasilan Barce/Leli turut melengkapi pencapaian tim para tenis meja Indonesia yang melampaui target awal empat medali perunggu.
Secara keseluruhan, Indonesia berhasil mengumpulkan satu medali emas dan enam perunggu pada Asian Para Games 2026.
Dua medali perunggu disumbangkan Osrita Muslim yang kini berusia 59 tahun melalui nomor ganda putri dan ganda campuran.
Ia berpasangan dengan Leli Marlina pada ganda putri TT10 serta Yayang Gunaya pada ganda campuran TT7.
Bayu mengakui pencapaian Osrita menjadi kejutan karena persaingan pada kedua nomor tersebut diperkirakan berlangsung sangat berat.
Namun, pendekatan bermain tanpa beban justru membantu Osrita memberikan dua medali perunggu bagi Indonesia.
“Yang penting main nothing to lose saja, enggak usah beban. Alhamdulillah malah hasilnya beliau menyumbangkan dua perunggu untuk tim para tenis meja ini,” kata Bayu.
Empat medali perunggu lainnya diraih Barce Layaba pada tunggal putra TT4-5 dan Komet Akbar pada tunggal putra TT10.
Sementara itu, Hamida menyumbangkan perunggu tunggal putri TT8 dan pasangan Adyos Astan/Yayang Gunaya meraih perunggu ganda putra TT8.













