PravadaNews – Kenaikan harga telur di tingkat konsumen meski produksi nasional melimpah kembali jadi sorotan. Pasalnya, kondisi tersebut dinilai sebagai anomali karena peningkatan pasokan belum diikuti dengan harga yang wajar bagi masyarakat.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, peningkatan konsumsi telur justru terjadi seiring dengan pelaksanaan program pemenuhan gizi. Namun, kondisi tersebut justru diikuti kenaikan harga di tingkat konsumen hingga melampaui harga acuan tertinggi.
“Untuk konsumsi telur, biasanya terjadi satu kali per minggu, namun sekarang menjadi dua hingga tiga kali. Meskipun produksi melimpah, harga di konsumen justru naik dan melebihi harga acuan tertinggi. Ini menunjukkan adanya anomali,” ujar Amran dalam keterangannya, Sabtu (24/10/2026).
Amran menilai kondisi tersebut perlu ditindak karena ketersediaan produksi telur yang melimpah seharusnya membuat harga tidak melonjak. Oleh karena itu, pemerintah perlu menelusuri penyebab kenaikan harga di tengah kondisi pasokan yang dinilai mencukupi.
Untuk menindaklanjuti persoalan tata niaga tersebut, Amran mengaku telah berkoordinasi dengan Kapolri dan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri. Amran juga menyampaikan telah meminta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membantu menangani persoalan yang berkaitan dengan komoditas ayam dan telur.
Pemerintah pun berharap pembenahan tata niaga dapat membuat ketersediaan pangan yang melimpah bermanfaat bagi seluruh pihak. Bahkan peternak diharapkan mendapatkan harga jual yang layak, sementara masyarakat dapat mengakses telur dan komoditas pangan lainnya dengan harga yang terjangkau.
Di tengah sorotan pemerintah terhadap kenaikan harga telur di tingkat konsumen, peternak justru menghadapi tekanan akibat penurunan harga jual. Kondisi tersebut dialami peternak telur ayam di Pengasinan, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang mengaku mengalami penurunan harga jual di tengah kenaikan biaya pakan.
Harga telur yang dikirim ke warung turun dari Rp 23.800 menjadi Rp 22.500 per kilogram (kg) dalam sekitar dua pekan terakhir. Sementara itu, kenaikan harga pakan sebesar Rp 390 per karung yang terjadi sejak awal Agustus hingga mendekati akhir September 2026 membuat keuntungan peternak semakin tipis.
Salah seorang peternak, Kiki, mengatakan kandangnya menghasilkan sekitar 60 kg telur per hari. Namun, perlambatan permintaan membuat telur tidak seluruhnya terserap pembeli dan sebagian masih menumpuk hingga dua hari.
Kondisi tersebut membuat keuntungan usaha nyaris impas, terlebih pembeli mulai meminta harga lebih rendah di tengah melemahnya penjualan.














