PravadaNews – Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui pada Oktober 2026 menunjukkan produksi padi Indonesia masih didominasi Pulau Jawa, meskipun produktivitas setiap daerah berbeda.
Besarnya produksi tidak selalu berarti hasil panen per hektare lebih tinggi, sebab luas lahan dan kondisi pertanian setiap daerah turut memengaruhi jumlah gabah yang dihasilkan.
BPS menghitung produksi menggunakan satuan gabah kering giling (GKG), sedangkan produktivitas menunjukkan rata-rata hasil panen per hektare.
Sebagai catatan, penghitungan produksi Januari–Agustus 2026 telah menggunakan angka tetap.
“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Kamis (1/10/2026).
Secara tahunan, produksi padi nasional meningkat dari 53,14 juta ton GKG pada 2024 menjadi 60,21 juta ton pada 2025. Sedangkan angka Januari–November 2026 belum final karena hasil September–November masih berupa potensi produksi.
Jawa Timur menjadi sentra terbesar dengan produksi 9,27 juta ton GKG pada 2024 dan 10,44 juta ton pada 2025, meskipun produktivitas turun dari 5,73 menjadi 5,67 ton per hektare. Untuk Januari–November 2026, potensi produksi Jawa Timur mencapai 10,24 juta ton GKG dengan produktivitas sekitar 5,71 ton per hektare.
Di posisi berikutnya, Jawa Barat menghasilkan 8,63 juta ton GKG pada 2024 dan 10,23 juta ton pada 2025. Namun, produktivitas sedikit turun dari 5,85 menjadi 5,83 ton per hektare.
Potensi produksi Jawa Barat hingga November 2026 mencapai 9,03 juta ton GKG dengan hasil sekitar 5,74 ton per hektare. Indramayu, Karawang, dan Subang menjadi sentra utama dengan produksi masing-masing 1,58 juta, 1,19 juta, dan 1,09 juta ton sepanjang 2025.
Sementara itu, Jawa Tengah memproduksi 8,89 juta ton GKG pada 2024 dan 9,30 juta ton pada 2025, dengan produktivitas turun dari 5,72 menjadi 5,56 ton per hektare. Potensi hingga November 2026 mencapai 8,72 juta ton dengan hasil sekitar 5,51 ton per hektare.
Beralih ke luar Jawa, Sulawesi Selatan menghasilkan 4,82 juta ton GKG pada 2024 dan 5,47 juta ton pada 2025. Produktivitas meningkat dari 5,07 menjadi 5,25 ton per hektare, sedangkan potensi hingga November 2026 mencapai 5,09 juta ton dengan hasil 5,29 ton per hektare.
Sumatera Selatan juga mencatat kenaikan produksi dari 2,91 juta ton pada 2024 menjadi 3,63 juta ton pada 2025, dengan produktivitas meningkat dari 5,58 menjadi 5,70 ton per hektare. Potensi hingga November 2026 mencapai 3,53 juta ton dengan hasil sekitar 5,67 ton per hektare.
Perbedaan produktivitas terlihat di Sumatera Selatan, ketika Banyuasin menghasilkan 1,18 juta ton GKG pada 2025 dengan hasil 5,11 ton per hektare, sedangkan Ogan Komering Ulu Timur mencapai 6,68 ton per hektare. Sebagai informasi, Kementerian Pertanian (Kementan) turut menguji teknologi budidaya pada lahan rawa pasang surut di Banyuasin.
Di Lampung, produksi meningkat dari 2,79 juta ton GKG pada 2024 menjadi 3,25 juta ton pada 2025, dengan produktivitas naik dari 5,25 menjadi 5,46 ton per hektare. Potensi hingga November 2026 mencapai 3,11 juta ton dengan hasil sekitar 5,34 ton per hektare.
Sumatera Utara menghasilkan 2,20 juta ton GKG pada 2024 dan 2,75 juta ton pada 2025, meskipun produktivitas turun dari 5,26 menjadi 5,15 ton per hektare. Potensi produksi hingga November 2026 mencapai 2,32 juta ton dengan hasil sekitar 5,30 ton per hektare.
Banten dan Nusa Tenggara Barat (NTB) turut menjadi sentra penghasil padi, dengan produksi pada 2025 masing-masing mencapai 1,77 juta dan 1,71 juta ton GKG. Produktivitasnya sebesar 5,14 dan 5,29 ton per hektare, sedangkan potensi produksi hingga November 2026 mencapai 1,60 juta dan 1,69 juta ton.
Adapun Aceh mencatat produksi 1,66 juta ton GKG pada 2024 dan 1,62 juta ton pada 2025, meskipun produktivitas meningkat dari 5,51 menjadi 5,70 ton per hektare. Potensi hingga November 2026 mencapai 1,44 juta ton dengan hasil sekitar 5,68 ton per hektare.
Berbeda dengan provinsi penghasil gabah terbesar, Bali memiliki produktivitas 6,12 ton per hektare pada 2024 dan 6,10 ton pada 2025. Produksinya masing-masing hanya 635 ribu dan 588 ribu ton GKG karena luas panen lebih kecil, sedangkan potensi hingga November 2026 mencapai 536 ribu ton dengan hasil 6,15 ton per hektare.
Untuk membantu petani mempercepat panen, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan bantuan pompa air dan mesin pemanen gabungan (combine harvester) di Mojokerto pada Oktober 2026.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut penggunaan mesin dapat mempersingkat pekerjaan panen.
“Panen dengan cara manual itu tiga hari satu hektare, kalau pakai combine harvester di tanah yang seperti ini bisa satu jam per hektar,” kata Khofifah dilansir dalam keterangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Minggu (25/10).














